Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Gaya Hidup

5 Makanan dari Era Kesultanan Palembang menjadi Sajian Khas Lebaran

Hidangan ini tetap lestari dan menjadi bagian dari perayaan Idul Fitri masyarakat Palembang.

3 April 2025 | 10.58 WIB

Kue lapis maksuba dibuat dari telor bebek. Foto: inachen08
Perbesar
Kue lapis maksuba dibuat dari telor bebek. Foto: inachen08

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Palembang - Lebaran tidak hanya menjadi momen untuk bersilaturahmi, tetapi juga ajang menikmati hidangan khas setiap daerah. Di Sumatra Selatan, ada beberapa makanan tradisional era Kesultanan Palembang yang dahulu menjadi hidangan istimewa. Hidangan ini tetap lestari dan menjadi bagian dari perayaan Idul Fitri masyarakat Palembang.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Berikut ragam hidangan khas warisan Kesultanan Palembang yang disajikan saat Lebaran.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

1. Nasi Minyak

Salah satu hidangan yang selalu hadir adalah nasi minyak. Makanan ini konon diperkenalkan oleh pedagang Arab yang singgah di Palembang pada abad ke-17. Nasi ini memiliki cita rasa yang dibuat dengan campuran rempah-rempah seperti kapulaga, cengkeh, dan minyak samin.

Biasanya, nasi minyak ini disajikan dengan lauk seperti malbi yang juga merupakan makanan khas Kesultanan Palembang. Nasi minyak juga bisa disajikan dengan ayam panggang. Nasi minyak ini menjadi pilihan utama saat Lebaran karena aromanya yang menggugah selera dan teksturnya yang lembut.

Makan ini hampir selalu ada di rumah-rumah orang asli Palembang. Tata cara makannya juga cukup unik, yaitu dengan cara diletakkan di nampan dan disajikan dengan porsi 2-3 orang. Lalu, sajian itu dimakan bersama-sama dengan cara membentuk lingkaran. Tata cara ini juga disebut sebagai "ngidang" yang juga ada di era Kesultanan Palembang.

2. Malbi

Malbi, yang kerap dijadikan pendamping nasi minyak, merupakan olahanan daging khas Palembang. Malbi yang juga warisan Kesultanan Palembang berkembang pada abad ke-17 hingga ke-19. Makanan ini disajikan dalam lingkungan bangsawan dan keluarga Kesultanan Palembang.

Malbi dipengaruhi oleh budaya Melayu, Arab, India dan Belanda. Setiap racikan bumbu malbi merupakan cita rasa dari empat budaya tersebut, dengan santan dan rempah-rempah khas seperti kayu manis, cengkeh, dan kapulaga.

Dari India dan Timur Tengah, ada pengaruh penggunaan bumbu pekat dan teknik memasak daging hingga empuk. Sedangkan, dari Belanda, unsur kecap manis mulai digunakan, karena pada masa kolonial, kecap manis mulai populer sebagai bumbu dalam berbagai masakan Nusantara.

Proses memasak malbi juga membutuhkan waktu lama agar daging menjadi empuk dan bumbu meresap sempurna. Hidangan ini sering disandingkan dengan ketupat atau nasi minyak untuk melengkapi sajian Lebaran.

3. Kue Maksuba

Di meja hidangan manis, kue maksuba menjadi primadona. Maksuba merupakan kue lapis yang dibuat dengan banyak telur bebek dan susu kental manis tanpa tepung, menciptakan tekstur lembut dan rasa manis legit.

Kue ini konon berasal dari dapur istana Kesultanan Palembang pada abad ke-17 hingga ke-19. Nama maksuba sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti tinggi atau bermartabat, melambangkan status sosial tinggi dari orang-orang yang menikmati kue ini.

Namun kini maksuba bisa dinikmati oleh semua orang. Kue ini membutuhkan ketelitian dalam proses pembuatannya karena harus dipanggang lapis demi lapis hingga mencapai ketebalan yang sempurna.

4. Kue Delapan Jam

Seperti namanya, kue delapan jam dikukus selama delapan jam, menghasilkan kue bertekstur padat dengan rasa yang khas dan aroma yang menggoda. Proses memasak yang panjang ini menunjukkan betapa berharganya hidangan ini dalam tradisi kuliner Sumatra Selatan, khususnya di era Kesultanan Palembang.

Dalam adat Palembang, pembuatan kue ini tidak boleh dipercepat atau dipersingkat karena dianggap akan mempengaruhi tekstur dan cita rasanya. Proses memasak yang panjang ini juga melambangkan kesabaran dan ketelitian, dua hal yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Kesultanan Palembang.

Hingga saat ini, kue delapan jam menjadi hidangan wajib saat perayaan Hari Raya Idul Fitri di Palembang. Kue ini juga sering disajikan sebagai suguhan spesial bagi tamu yang bersilaturahmi dalam perayaan besar seperti Maulid Nabi atau jamuan istana.

5. Kue Engkak Ketan

Selain kedua kue manis tersebut, ada satu lagi kue yang ada di era Kesultanan Palembang, yaitu engkak ketan. Kue yang terbuat dari ketan, santan, telur, mentega, dan gula ini juga selalu ada saat Lebaran.

Proses pembuatannya yang cukup rumit dan membutuhkan ketelitian menjadikan kue ini salah satu hidangan istimewa di Palembang. Nama "engkak" berasal dari dialek lokal Palembang yang berarti lapisan, merujuk pada proses pembuatannya yang berlapis-lapis. Sementara itu, "ketan" mengacu pada bahan utama kue ini, yaitu tepung ketan yang memberikan tekstur kenyal dan legit.

Pada masa Kesultanan Palembang, engkak ketan dianggap sebagai hidangan mewah karena bahan dasarnya yang tidak murah dan membutuhkan keterampilan dalam pembuatannya. Oleh karena itu, kue ini hanya disajikan dalam acara khusus seperti pesta pernikahan keluarga bangsawan atau perayaan keagamaan seperti Idul Fitri dan Maulid Nabi.

Makanan khas Kesultanan Palembang yang disajikan saat Lebaran bukan hanya sekadar hidangan, tapi memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi bagi masyarakat Palembang. Dari masa kesultanan hingga kini, makanan-makanan ini telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Bumi Sriwiajaya. 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus