Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Ajang MasterChef Indonesia kembali hadir. Tahun ini para juri yang memimpin lomba memasak ini adalah Chef Juna, Chef Renatta Moeloek, dan Chef Arnold.
Baca: Laksa Udang ala Chef Juna, Kuliner Asyik di Hari Libur
Juna Rorimpandey alias Chef Juna, bukan nama baru dalam juri acara itu. Tempo pernah mewawancarai Chef Juna pada Oktober 2012. Juri ini berkarakter "kejam" dalam acara tersebut. Ditambah lagi, dia kerap tampil di dapur mengenakan jaket ala biker dan bertato. Ia mengaku, karakter garangnya di itu bukan akting. "Gue memang keras. Silakan tanya," ujarnya kepada Tempo.
Dia keras, tapi tak segalak di televisi. Pria 37 tahun ini sangat ramah-dengan caranya sendiri. Ia juga ramah kamera, meski sempat tak mau diminta bergaya. "Enggak mau gue. Enggak biasa. Candid aja," ujarnya
Kepada Tempo, Chef Juna menceritakan sedikit tentang masa kecilnya. Menurut Juna, ia adalah contoh nyata korban keluarga broken home. Ia sudah berpisah dari ayahnya pada usia 6 tahun. Di sekolah, hari-harinya penuh kegiatan adu jotos dan membolos. Yang paling memalukan dan memilukan, menurut dia, saat dia terlibat baku hantam karena perempuan. Dia ditantang berkelahi satu lawan satu. Saat mendatangi lokasi, ternyata ia dijebak. Ada 40 lelaki menunggunya. "Lawan enggak seimbang. Gue bonyok," kata Juna kepada Tempo yang mengikutinya seharian. Ia menghabiskan masa remajanya di Bali.
Di bangku kuliah, kebadungannya kian parah. Kupingnya nyaris putus terkena sabetan samurai saat tawuran. Ia langsung dilarikan ke Rumah Sakit Sumber Waras. Operasinya menyakitkan karena dilakukan tanpa obat bius. "Dokternya tidak suka sama anak bandel," ujarnya.
Insiden itu terjadi ketika Juna, sebagai Ketua Angkatan 1993 Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti, memimpin serangan ke Jurusan Teknik Mesin. Penyebabnya sepele: berebut lahan parkir. Namun, sebelum menyerang, Juna menelepon komando distrik militer di sebelah kampusnya.
Baca: Chef Juna Pormosikan Menu Masakan Khas Bali di Brunei Darusssalam
Pasalnya, kata dia, jika tawuran terus berlanjut, gedung jurusannya bakal hancur. "Itu strategi. 'Minyak' cuma 40 orang. Sementara 'Mesin' 300 orang," ujarnya, sembari tertawa.
KORAN TEMPO
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini