Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Drama Cina The White Olive Tree tidak hanya membuat penonton jatuh cinta dengan karakter-karakternya. Tapi juga lokasi syutingnya dengan latar yang indah semakin menyempurnakan alur cerita. Sebagian besar adegan difilmkan di lokasi nyata di seluruh Cina, terutama di Sichuan yang menarik untuk merasakan budaya setempat.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
The White Olive Tree mengangkat kisah tentang Song Ran, seorang reporter perang, yang menyelamatkan Li Zan, seorang spesialis bom. Pertemuan mereka yang tak disengaja berujung pada persahabatan di masa-masa sulit perang. Namun, mereka dipisahkan oleh sebuah tragedi dan harus kembali ke Cina.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Setelah bertemu lagi keduanya berada di titik terendah dalam hidup mereka masing-masing dan mulai enemukan penyembuhan dalam diri satu sama lain. Disiarkan di iQIYI sebanyak 38 episode, serial ini diadaptasi dari buku dengan nama yang sama. Song Ran diperankan oleh Liang Jie dan Li Zan oleh Chen Zhe Yuan.
Atraksi wisata di Kota Sichuan
Plot awal The White berlatar di zona perang East Country. Meskipun fiksi, Kota Leshan di Provinsi Sichuan, Cina digunakan sebagai lokasi wilayah yang dilanda perang ini. Kota Leshan yang kaya budaya terletak di barat daya Cekungan Sichuan, di pertemuan Sungai Ming, Qingyi, dan Dadu. Jaraknya sekitar 120 kilometer dari Chengdu, ibu kota Sichuan. Leshan terkenal dengan situs Warisan Dunia UNESCO yang ikonik, yaitu Patung Buddha Raksasa Leshan, yang memiliki nilai sejarah penting bagi warisan dan budaya bangsa.
1. Patung Buddha Raksasa Leshan
Kunjungi Situs Warisan Dunia UNESCO yang menampilkan patung Buddha batu terbesar di dunia. Patung batu pasir merah setinggi 71 meter yang mengesankan ini diukir di tebing dan menggambarkan Buddha dalam posisi Maitreya. Dibangun pada masa Dinasti Tang, patung ini memakan waktu 90 tahun untuk diselesaikan.
Salah satu kenunikannya adalah detail arsitektur patung yang terdiri 1.021 sanggul yang diukir dengan cermat untuk membentuk rambut melingkar Sang Buddha. Termasuk sistem drainase yang tersembunyi dengan cerdik, yang memungkinkan air hujan menyebar dan membantu menjaganya tetap kering dan terlindungi.
Wisatawan bisa menikmati kemegahan Patung Buddha Raksasa Leshan,, dengan memasuki area pemandangan dan berdiri dekat patung tersebut. Sedangkan yang kedua naik perahu di sungai di samping patung, yang memungkinkan melihat seluruh monumen.
2. Gunung Emei
Patung Buddha Raksasa Leshan merupakan bagian dari Area Pemandangan Gunung Emei yang diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO di Cina Gunung Emei terkenal karena keindahan alam dan makna budayanya dalam agama Buddha, salah satu dari Empat Gunung Buddha Besar di Cina. Cara terbaik untuk menjelajah Gunung Emei adalah dengan ekspedisi pendakian melintasi pegunungan. Sepanjang perjalanan, disuguhi hijaunya pepohonan dan mengunjungi situs-situs Buddha di pegunungan, termasuk Samantabhadra Bodhisattva, Paviliun Qingyin, Kuil Baoguo, dan Kuil Wannian.
3. Naiki Kereta Uap Jiayang
Kereta Uap Jiayang adalah salah satu kereta uap berbahan bakar batu bara jalur sempit terakhir yang beroperasi di dunia. Kalau naik kereta ini seperti dalam perjalanan indah melintasi pedesaan Cina. Kereta ini melintasi Jalur Batubara Bajiaogou-Shixi sepanjang 19,8 kilometer, dari Stasiun Yuejin hingga Stasiun Bagou. Perjalanan yang menawan ini menampilkan lautan bunga matahari dan bunga kanola yang mekar selama musim semi dan panas.
4. Nikmati cita rasa tradisional Sichuan
Masakan ini berbeda dengan masakan Cina lainnya, yaitu penggunaan bawang putih dan lada Sichuan yang berani. Hasilnya banyak yang menyumbangkan rasa pedas dan tajam pada masakannya. Beberapa hidangan populer yang dapat dicicipi di Leshan antara lain Daging Sapi QiaoJiao, KaBing, Boboji, dan Doufu Nao, tersedia di Jalan Kuliner Zhanggongqiao dan Jalan Kuliner Jiaxing Road.