Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pengamat Desak Industri Besar AMDK Terbuka soal Galon Bebas BPA

Kencangnya penentangan Aspadin atas rancangan peraturan pelabelan risiko BPA memunculkan kesan industri AMDK tak mau tunduk pada pemerintah.

21 Maret 2022 | 18.45 WIB

Pengamat Desak Industri Besar AMDK Terbuka soal Galon Bebas BPA
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

INFO NASIONAL -- Pemerhati ekonomi sirkular dari Nusantara Circular Economy & Sustainability Initiatives (NCESI), Yusra Abdi, mendesak industri besar Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), lebih membuka diri dan antusias menyambut keinginan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) agar air galon yang beredar luas di Indonesia bebas dari risiko Bisfenol A (BPA)—bahan kimia yang bisa menyebabkan kanker dan kemandulan. "Sebagai perusahaan air kemasan terbesar, brand tertentu semestinya bersuara langsung dan tak lagi berlindung di balik Asosiasi Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin)," katanya. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

Menurut Yusra, kencangnya penentangan Aspadin atas rancangan peraturan pelabelan risiko BPA—kini dalam proses akhir pengesahan di Sekretariat Kabinet— malah memunculkan kesan industri AMDK tak mau tunduk pada pemerintah dan bahkan ingin menjegal inisiatif BPOM."Aneka pernyataan Aspadin sejauh ini sangat frontal dan mengesankan inisiatif BPOM terkait pelabelan risiko BPA sebagai "vonis mati" bagi industri AMDK, meski faktanya jauh dari itu," katanya.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Terkait hal itu, Yusra mendesak brand tertentu terbuka ke publik ihwal langkah perusahaan memasarkan galon berbahan Polyethylene Terephthalate (PET), plastik lunak yang bebas BPA, di sejumlah daerah di Indonesia. "Bila benar, langkah ini sifatnya mengakomodir keinginan BPOM dan sangat positif untuk publik, namun sayangnya tak disertai dengan keterbukaan yang semestinya." ujarnya merujuk kabar peredaran air minum galon berbahan PET, kerap juga disingkat PETE, di Bali dan Manado.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia, Saut Marpaung, mengatakan brand tertentu telah memasarkan air minum galon berbahan plastik lunak PET di sejumlah daerah. "brand tertentu sudah memakai galon berjenis PET di Bali dan di Manado, sebelumnya hanya pakai satu jenis saja, polikarbonat, yang mengandung aditif BPA," katanya via Twitter pada 12 Maret.

Saut menuturkan, bahan campuran BPA menjadikan galon plastik keras polikbonat lebih kuat dan tahan lama dibanding galon yang menggunakan plastik lunak PET. Dalam tweet lanjutan, dia memperlihatkan foto dan sebuah rekaman video pendek yang digambarkankan sebagai "limbah kemasan galon merek brand tertentu jenis PET di sebuah pengepul sampah di Kecamatan Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur".

Sebanyak 50 ton limbah brand tertentu edang ditawarkan untuk dijual sebagai material daur ulang. "Sama seperti galon PC bahannya tebal, bedanya, galon baru ini jenis PET bebas BPA," ujarnya. Seorang netizen di Bali, Nyonyi, membenarkan peredaran galon brand tertentu yang bebas BPA di Bali. "Karena menetap di Bali dan rutin menggunakan brand tertentu, saya penasaran dan mengecek sendiri. Ada simbol sekali pakai dan tulisan di dasar galon PETE. Tapi tengah galonnya ditulis 'Kembalikan untuk Diisi Ulang'," katanya dalam sebuah tweet, memperlihatkan dua foto close-up keterangan jenis plastik di dasar galon. 

Akhir Desember silam, Kepala BPOM, Penny K. Lukito, menghimbau industri AMDK ikut memikirkan potensi bahaya BPA pada air minum galon berbahan plastik keras polikarbonat yang beredar luar di masyarakat. "Saya mengajak pelaku usaha, utamanya industri besar, untuk ikut memikul tanggung jawab melindungi masyarakat karena ada risiko BPA yang terkait dengan aspek kesehatan, termasuk fertility (tingkat kesuburan wanita) dan hal-hal lain yang belum kita ketahui saat ini," katanya.

Kantor Berita Antara pada 30 Januari 2022 dalam laporannya menyebutkan, Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM, Rita Endang, mengungkapkan telah menemukan "sejumlah kecenderungan mengkhawatirkan" terkait luluhnya BPA pada galon guna ulang berbahan polikarbonat. Penemuan itu berdasarkan atas uji sampel post-market yang dilakukan BPOM selama periode 2021-2022 di seluruh Indonesia. Hasilnya kelompok rentang bayi (usia 6-11 bulan) berisiko terpapar BPA 2,4 kali dari batas aman sementara anak-anak (usia 1-3 tahun) 2,12 kali.

Menurut Rita, BPOM mulai merencanakan revisi pelabelan BPA pada galon berbahan polikarbonat antara lain karena belajar dari tren di banyak negara. Di sejumlah negara, galon berbahan polikarbonat dilarang beredar jika tidak mencantumkan label peringatan potensi bahaya BPA. Negara Bagian California di Amerika Serikat misalnya telah menerapkan aturan tersebut sejak 2015.

Dalam rancangan peraturan BPOM, produsen air galon yang menggunakan kemasan polikarbonat wajib mulai mencantumkan label "Berpotensi Mengandung BPA" kurun tiga tahun tiga tahun sejak peraturan disahkan. Sementara itu, produsen yang menggunakan kemasan selain polikarbonat diperbolehkan mencantumkan label "Bebas BPA".(*) 

Prodik Digital

Prodik Digital

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus