Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Memahami Kenaikan Tarif Impor yang Diberlakukan Donald Trump dan Dampaknya

Presiden Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor bagi seluruh negara yang diprediksi bakal mengguncang ekonomi dunia.

4 April 2025 | 09.00 WIB

Ilustrasi Resesi Ekonomi. shutterstock.com
Perbesar
Ilustrasi Resesi Ekonomi. shutterstock.com

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

PRESIDEN AS Donald Trump, Rabu, 2 April 2025, mengumumkan bahwa ia akan memberlakukan tarif dasar 10 persen untuk impor dari semua negara dalam beberapa hari mendatang. Puluhan negara akan dikenakan tarif yang lebih tinggi karena dinilai memiliki hubungan dagang yang paling tidak adil dengan AS.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Dalam pidatonya di acara Rose Garden di Gedung Putih yang dihadiri sebagian besar anggota kabinetnya, Trump mengatakan bahwa Amerika telah berpuluh-puluh tahun dijarah, dirampok dan diperkosa oleh negara-negara yang dekat dan jauh, baik kawan maupun lawan. "Tapi itu tidak akan terjadi lagi," ia menegaskan.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Menurut Al Jazeera, pada 13 Februari, Trump mengumumkan rencana untuk meninjau kembali tarif dan kebijakan perdagangan yang diberlakukan oleh negara-negara lain terhadap ekspor AS.

Di bawah apa yang disebutnya sebagai Rencana Adil dan Resiprokal, AS akan memberlakukan jumlah tarif yang sama terhadap negara-negara lain yang diberlakukan negara-negara tersebut terhadap barang-barang AS.

Trump berargumen bahwa banyak mitra dagang AS telah mengambil keuntungan dari tingkat tarif AS yang rendah sambil mempertahankan bea masuk yang lebih tinggi untuk barang-barang AS.

Pengumuman tersebut, pada hari yang dijuluki Gedung Putih sebagai "Hari Pembebasan", mengakhiri ketidakpastian tarif selama berminggu-minggu. Pengumuman ini telah mengguncang pasar keuangan, membuat konsumen khawatir, dan membuat para diplomat asing berlarian ke Washington untuk mencoba menegosiasikan ulang, Politico melaporkan.

Mengapa Trump Menaikkan Tarif Impor?

Pemberlakukan tarif akan membuat harga-harga impor menjadi lebih mahal di dalam negeri. Ketika sebuah negara memberlakukan tarif, alasannya adalah untuk mendorong produksi dalam negeri karena mahalnya harga barang impor dan menciptakan lapangan pekerjaan. Tarif melindungi industri lokal dari impor yang lebih murah.

Alasan ini juga tampaknya yang digunakan Trump dalam pemberlakukan tarif impor baru. Trump bertaruh bahwa tarif yang lebih tinggi akan mendorong produsen untuk memproduksi lebih banyak di Amerika Serikat. Ia meyakinkan para pemilih Amerika bahwa potensi keuntungan jangka panjang dari peningkatan produksi lebih besar daripada rasa sakit jangka pendek yang disebabkan oleh harga yang lebih tinggi.

Tingkat tarif AS yang relatif rendah, serta pasarnya yang besar dan kaya, membuatnya menjadi tujuan yang menarik bagi eksportir asing. Meskipun konsumen AS mungkin diuntungkan oleh impor yang lebih murah, masuknya barang-barang asing meningkatkan persaingan bagi produsen dalam negeri, yang berkontribusi pada ketidakseimbangan perdagangan yang telah dijanjikan oleh Trump untuk dikurangi.

Apa Dampaknya bagi Ekonomi dalam Negeri?

Presiden AS menjual gagasan tarif global dengan suasana perayaan, memenuhi janjinya saat kampanye untuk membebaskan negara dari harga-harga yang lebih tinggi. Presiden mengklaim "harga-harga sudah turun" sejak ia kembali menjabat, tetapi siapa pun yang mengunjungi toko kelontong pada saat itu mungkin akan merasakan hal yang berbeda, The Guardian melaporkan.

Perusahaan-perusahaan AS khawatir akan dampak yang lebih luas dari langkah ini: biaya yang lebih tinggi akan dibebankan kepada pelanggan mereka. "Apa yang kami dengar dari berbagai perusahaan dari berbagai skala, di semua industri, dari seluruh negeri adalah bahwa tarif yang luas ini adalah kenaikan pajak yang akan menaikkan harga bagi konsumen Amerika dan melukai perekonomian," kata Neil Bradley, kepala kebijakan di Kamar Dagang Amerika, kelompok lobi perusahaan.

Axios melansir, para pakar melihat peluang resesi ekonomi yang lebih kuat tahun ini, di samping harga-harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lemah akibat perang dagang. Ketidakpastian kebijakan perdagangan membuat bisnis berada dalam ketidakpastian dan pasar saham gelisah. Survei ekonomi terbaru menunjukkan bahwa konsumen berencana untuk mengurangi belanja dan bersiap-siap menghadapi harga yang lebih tinggi.

Jika cukup meluas, penurunan permintaan dan kenaikan harga yang stabil akan menghasilkan hasil yang ditakuti oleh orang Amerika: "stagflasi" ekonomi. Stagflasi dapat dipahami sebagai situasi ekonomi yang ditandai dengan pertumbuhan yang lambat dan tingkat pengangguran yang tinggi disertai dengan inflasi.

Apa yang Dikhawatirkan Dunia?

Pemberlakuan tarif impor oleh Trump akan memberi dampak besar pada pertumbuhan negara-negara lain. Namun, ada implikasi lain yang sangat dikhawatirkan Seijiro Takeshita, dekan sekolah manajemen di Universitas Shizuka.

Ia mengatakan bahwa implikasi global dari tarif Trump sangat mengkhawatirkan Jepang. "Bagi Jepang, kami memiliki 20 persen ekspor ke AS, namun yang benar-benar kami khawatirkan adalah dampak yang sedang berlangsung - menurut saya seperti tsunami - setelah gempa bumi ini. Dengan kata lain, implikasi global dari hal ini," kata Takeshita kepada Al Jazeera.

Setelah pemberlakuan tarif ini, AS menurut Takeshita, mungkin akan jatuh ke dalam stagflasi dengan kenaikan inflasi karena tindakan pembalasan yang akan dilakukan oleh banyak negara. Pada akhirnya, "stagflasi" di AS kemudian berputar di seluruh dunia. "Itulah yang sangat dikhawatirkan oleh orang Jepang," katanya.

Apakah Kebijakan Trump Memiliki Preseden?

Kebijakan Trump menaikkan tarif ini menandai aksi perdagangan proteksionis AS paling signifikan sejak 1930-an. Ekonomi Amerika Serikat pernah terjerumus dalam Depresi Besar yang dimulai pada 1929 dan berakhir hingga 1939. Era ini ditandai oleh tingkat pengangguran yang tinggi, kemiskinan dan kegagalan bisnis serta perbankan yang meluas.

Tarif AS secara historis jauh lebih tinggi, terutama sepanjang abad ke-19 dan awal abad ke-20. Menanggapi kejatuhan pasar saham pada 1929, yang menjadi awal dari Depresi Besar, Presiden AS Herbert Hoover menandatangani Undang-Undang Tarif Smoot-Hawley pada 1930.

Tujuannya adalah untuk melindungi petani AS dengan tarif yang luas untuk impor pertanian dan industri. Namun, beberapa negara memberlakukan tarif pembalasan yang menyebabkan melemahnya ekonomi AS.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus