Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Berita Tempo Plus

Gelombang Baru Pengungsi Rohingnya ke Bangladesh: Apa yang Bisa Dilakukan ASEAN?

Eskalasi konflik telah memperburuk situasi keamanan dan kesehatan warga Myanmar. Gelombang baru pengungsi membanjiri Bangladesh.

1 September 2024 | 00.00 WIB

Pengungsi Rohingya memperingati tujuh tahun pelarian mereka dari Myanmar di Cox's Bazar, Bangladesh, 25 Agustus 2024. Reuters/Mokammel Mridha
Perbesar
Pengungsi Rohingya memperingati tujuh tahun pelarian mereka dari Myanmar di Cox's Bazar, Bangladesh, 25 Agustus 2024. Reuters/Mokammel Mridha

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

SITUASI Myanmar memburuk sejak Operasi 1027, operasi militer Aliansi Tiga Persaudaraan—yang terdiri atas Tentara Arakan, Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang, dan Tentara Aliansi Demokrasi Nasional Myanmar—yang melancarkan serangan bersama terhadap Tatmadaw, militer Myanmar, pada 27 Oktober 2023. Mereka merebut sejumlah pos perbatasan strategis dan mengusir Tatmadaw dari 150 pos lebih di Negara Bagian Shan di dekat perbatasan dengan Cina—kemunduran terbesar junta sejak kudeta militer pimpinan Jenderal Senior Min Aung Hlaing pada 1 Februari 2021.

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Nabiila Azzahra berkontribusi dalam penulisan artikel ini. Di edisi cetak, artikel ini berjudul "Terjepit di Tengah Konflik".

Iwan Kurniawan

Sarjana Filsafat dari Universitas Gadjah Mada (1998) dan Master Ilmu Komunikasi dari Universitas Paramadina (2020. Bergabung di Tempo sejak 2001. Meliput berbagai topik, termasuk politik, sains, seni, gaya hidup, dan isu internasional.

Di ranah sastra dia menjadi kurator sastra di Koran Tempo, co-founder Yayasan Mutimedia Sastra, turut menggagas Festival Sastra Bengkulu, dan kurator sejumlah buku kumpulan puisi. Puisi dan cerita pendeknya tersebar di sejumlah media dan antologi sastra.

Dia menulis buku Semiologi Roland Bhartes (2001), Isu-isu Internasional Dewasa Ini: Dari Perang, Hak Asasi Manusia, hingga Pemanasan Global (2008), dan Empat Menyemai Gambut: Praktik-praktik Revitalisasi Ekonomi di Desa Peduli Gambut (2020).

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus