Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Berita Tempo Plus

Bagaimana Srettha Thavisin Menjadi Perdana Menteri Thailand

PM Thailand Srettha Thavisin berfokus pada pemulihan ekonomi. Terpilih setelah Thaksin Shinawatra berkongsi dengan Prayut Chan-o-cha.

17 September 2023 | 00.00 WIB

Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin menyapa jurnalis bersama anggota kabinetnya setelah upacara sumpah setia di Bangkok, Thailand, 5 September 2023. REUTERS/Athit Perawongmetha
Perbesar
Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin menyapa jurnalis bersama anggota kabinetnya setelah upacara sumpah setia di Bangkok, Thailand, 5 September 2023. REUTERS/Athit Perawongmetha

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

DENGAN mengenakan jas biru dan dasi kuning, Srettha Thavisin, Perdana Menteri Thailand yang baru, menyampaikan rencana kerja pemerintahannya dalam pidato perdananya di Majelis Nasional, parlemen negeri itu, pada Senin, 11 September lalu. Konglomerat properti yang baru terjun ke dunia politik itu membacakan dokumen setebal 52 halaman yang berfokus pada penanganan ekonomi.

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Di Bawah Bayang-bayang Dua Tuan"

Iwan Kurniawan

Sarjana Filsafat dari Universitas Gadjah Mada (1998) dan Master Ilmu Komunikasi dari Universitas Paramadina (2020. Bergabung di Tempo sejak 2001. Meliput berbagai topik, termasuk politik, sains, seni, gaya hidup, dan isu internasional.

Di ranah sastra dia menjadi kurator sastra di Koran Tempo, co-founder Yayasan Mutimedia Sastra, turut menggagas Festival Sastra Bengkulu, dan kurator sejumlah buku kumpulan puisi. Puisi dan cerita pendeknya tersebar di sejumlah media dan antologi sastra.

Dia menulis buku Semiologi Roland Bhartes (2001), Isu-isu Internasional Dewasa Ini: Dari Perang, Hak Asasi Manusia, hingga Pemanasan Global (2008), dan Empat Menyemai Gambut: Praktik-praktik Revitalisasi Ekonomi di Desa Peduli Gambut (2020).

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus