Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Washington saat ini sudah tidak memberikan bantuan militer terbaru apapun ke Ukraina. Trump berkeras warga Amerika Serikat pembayar pajak yang paling harus mendapat manfaat dari uang yang sudah mereka investasikan.
Trump menyebut saat ini Uni Eropa dan NATO yang seharusnya mengambil tanggung jawab lebih banyak untuk keamanan Ukraina. Dikutip dari RT.com, Trump menuntut pada Kyev dibukanya akses ke sumber daya alam Ukraina sebagai kompensasi atas bantuan Amerika Serikat selama perang Ukraina berkecamuk. Namun Kyev berkali-kali menundanya. Walhasil, Trump mengancam kesepakatan soal akses ini harus sudah bisa dikunci pada Jumat, 28 Februari 2025.
"Ukraina sudah mendapatlan US$ 350 miliar dalam bentuk peralatan tempur, peralatan militer dan hak untuk berperang," kata Trump.
Menurutnya, tanpa Amerika Serikat dan uang yang digelontorkannya, maka perang Ukraina bakal selesai lebih awal (perang Ukraina sudah tiga tahun berkecamuk). Trump memperingatkan sudah terlalu banyak uang yang dikeluarkan warga Amerika Serikat.
"Pengiriman bantuan militer mungkin masih akan berlangsung sementara, sampai kami mengunci kesepakatan dengan Rusia," kata Trump saat ditanya soal keberlanjutan pengiriman senjata dan amunisi ke Ukraina.
Trump mengatakan pihaknya saat ini perlu mengunci kesepakatan dengan Rusia. Jika tidak berhasil, maka Amerika Serikat mungkin saja untuk sementara tetap mengirimkan senjata ke Ukraina atau sebaliknya pengiriman senjata dihentikan lebih cepat. Trump sangat yakin, Presiden Rusia Vladimir Putin ingin menyelesaikan perang Ukraina dengan cepat.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah mendesak agar Ukraina diberikan keanggotaan NATO sebagai bagian dari perjanjian apa pun untuk mengakhiri perang, tetapi aliansi yang dipimpin Amerika Serikat itu ragu-ragu berkomitmen. Presiden Trump saat yang sama meningkatkan retorika anti-Zelensky dan pro-Kremlin sejak pejabat Amerika Serikat dan Rusia mengadakan pembicaraan tingkat tinggi pertama mereka dalam tiga tahun pekan lalu di Arab Saudi.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini