Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Trump Umumkan Hari Pembebasan Tarif, Bagaimana Nasib Barang Impor dari RI?

Donald Trump mengumumkan hari pembebasan yang akan mengenakan bea masuk untuk semua barang impor ke AS.

3 April 2025 | 13.00 WIB

Presiden Donald Trump. Dok. Whitehouse
Perbesar
Presiden Donald Trump. Dok. Whitehouse

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden AS Donald Trump mengumumkan "Hari Pembebasan" atau Liberation Day pada Rabu, 2 April 2025. Dengan kebijakan baru itu, Trump menerapkan bea masuk untuk barang-barang yang masuk ke AS. Pengumuman tarif dilakukan di White House Rose Garden atau Taman Mawar Gedung Putih dalam acara formal bertajuk "Make America Wealth Again" atau Membuat Amerika Kaya Kembali.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Trump menyebut pengumuman tarif global itu sebagai "Hari Pembebasan." Dilansir dari Antara, ia meyakini bahwa kebijakan tersebut akan membebaskan Amerika Serikat dari berbagai praktik perdagangan yang tidak adil dan ketidakseimbangan perdagangan global. Dia menyebut pemberlakuan tarif itu sebagia deklarasi kemandirian ekonomi.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Dengan adanya kebijakan tarif secara global, maka pemerintah AS akan mempertegas kebijakan America First yang bertujuan antara lain untuk meningkatkan manufaktur dan lapangan kerja sekaligus mengurangi defisit perdagangan.

Dikutip dari CNN, Trump mengumumkan tarif 10 persen untuk semua impor ke Amerika Serikat. Ia juga mengenakan tarif yang lebih tinggi lagi untuk barang-barang dari sekitar 60 negara atau blok perdagangan yang memiliki defisit perdagangan tinggi dengan AS. Negara yang dikenakan tarif tinggi termasuk Cina dan Uni Eropa, yang akan dikenakan bea baru masing-masing sebesar 34 persen dan 20 persen.

Negara-negara asing, termasuk sekutu lama AS, mengatakan akan mengenakan tarif masuk pula untuk barang-barang AS. Hal ini dikhawatirkan akan memicu perang dagang global sehingga bakal kian memicu inflasi dan membebani konsumen AS.

"Kami akan mengenakan biaya kepada mereka sekitar setengah dari yang mereka tetapkan dan telah mereka kenakan kepada kami, jadi tarifnya tidak akan berlaku timbal balik penuh," kata Trump dari Rose Garden pada Rabu sore, 3 April 2025. "Saya kira saya bisa saja melakukan itu, tetapi itu akan sulit bagi banyak negara dan kami tidak ingin melakukannya."

Tarif dasar 10 persen mulai berlaku pada Sabtu, 6 April 2025. Tarif yang lebih tinggi akan mulai berlaku pada 9 April 2025. Tarif baru tidak akan menambah tarif yang sebelumnya diumumkan pada baja, aluminium, dan mobil.

Tarif sebesar 25 persen untuk barang dari Meksiko dan Kanada yang tidak mematuhi Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada akan tetap berlaku hingga Trump memutuskan bahwa masalah seputar fentanil dan imigrasi ilegal telah diselesaikan. Jika hal itu terjadi, Kanada dan Meksiko akan kembali menggunakan pendekatan perdagangan pemerintah saat ini untuk negara lain. Pejabat senior Gedung Putih mengatakan Trump juga ingin mengenakan tarif terpisah pada semikonduktor, farmasi, dan mineral penting, yang akan diumumkan di kemudian hari.

AS Kenakan Tarif Impor 32 Persen untuk Barang Indonesia 

Menurut unggahan Gedung Putih di Instagram, Indonesia berada di urutan ke delapan di daftar negara-negara yang terkena kenaikan tarif AS, dengan besaran 32 persen. Sekitar 60 negara bakal dikenai tarif timbal balik separuh dari tarif yang mereka berlakukan terhadap AS.

Berdasarkan daftar tersebut, Indonesia bukan negara satu-satunya di kawasan Asia Tenggara yang menjadi korban dagang AS. Ada pula Malaysia, Kamboja, Vietnam serta Thailand dengan masing-masing kenaikan tarif 24 persen, 49 persen, 46 persen dan 36 persen.

Di sisi lain, kenaikan tarif menimbulkan biaya yang lebih tinggi pada importir yang berbasis di AS. Banyak pebisnis mengatakan bersiap menghadapi dampak dari tindakan terbaru Trump.

"Ini mengkhawatirkan, biayanya mahal, dan kita semua harus mengambil keputusan," kata Benjamin Colvin, presiden dan salah satu pendiri Devil's Foot Brewing di Asheville, North Carolina.

Tarif Trump akan memengaruhi sejumlah besar perusahaan, termasuk toko kelontong, yang menjual berbagai barang impor. "Sistem pangan kami terkait erat dengan pasar global, termasuk produk yang tidak ditanam di Amerika Serikat seperti pisang atau barang musiman, yang membantu menjaga harga tetap rendah sekaligus menyediakan akses bagi konsumen Amerika terhadap makanan yang aman dan bergizi sepanjang tahun," kata Leslie Sarasin, presiden dan kepala eksekutif The Food Industry Association. 

 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus