Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
MESKI terakhir kali melihat elang flores (Nisaetus floris) pada 2003, Martinus Firman Jaya, 27 tahun, masih ingat persis kenangan tersebut. Saat itu ia duduk di kelas I sekolah dasar. Firman bersama rekan-rekan sebayanya sedang bermain bola kaki di petak sawah di belakang rumahnya ketika dua ekor ntangis—bahasa daerah Manggarai untuk elang—terbang rendah guna menyambar ayam yang mencari makan.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Ambrosius Adir berkontribusi dalam penulisan artikel ini. Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawaj judul "Elang Flores Terancam Tinggal Nama"