Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Sukoharjo - Hujan deras mengguyur sejumlah wilayah di Solo Raya, Jawa Tengah, pada Senin, 24 Februari 2025, sejak pukul 14.00 WIB hingga malam. Dampak dari hujan persisten itu antara lain adalah banjir merendam sejumlah desa di Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo. Ketinggian air bervariasi mulai dari semata kaki hingga sekitar satu meter.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo, hujan deras selama lebih dari 3 jam itu telah menyebabkan sejumlah aliran sungai yang berhulu di Karanganyar meluap. Banjir lalu menyebabkan akses jalan Sukoharjo-Wonogiri di simpang tiga Songgorunggi serta ruas jalan Songgorunggi-Plesan terhambat.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Hingga berita ini ditulis, banjir masih terjadi. Air bahkan sudah mulai melimpas dari jalan-jalan dan memasuki rumah sebagian warga di Kecamatan Nguter hingga memaksa sebagian warga terpaksa mengungsi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Kabupaten Sukoharjo bersama Tim SAR, relawan, dan warga setempat berupaya mengevakuasi warga, khususnya anak-anak dan lansia yang terjebak banjir di dalam rumahnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengatakan belum bisa memastikan jumlah warga terdampak banjir pada malam ini. "Kami saat ini masih terus berkoordinasi dan masih proses evakuasi," ujarnya saat dihubungi melalui ponselnya, Senin malam.
Salah seorang warga Kecamatan Nguter Agil Trisetiawan menginformasikan beberapa desa yang terdampak banjir adalah Kedungwinong, Kepuh, Gupit, dan Celep. Banjir paling parah terjadi di wilayah Kedungwinong. "Air sudah mulai memasuki rumah-rumah warga," tutur Agil yang dihubungi melalui ponselnya.
Menurut Agil, banjir juga berdampak terhadap arus lalu lintas di Jalan Sukoharjo-Wonogiri di Songgorunggi karena banjir setinggi setengah meter. "Jalan tidak bisa dilalui karena banjir, banyak kendaraan terpaksa minggir, tidak bisa lewat," katanya.
Terpisah, peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin Bibit mengungkap bahwa siklon 99S di Samudra Hindia sebelah selatan Jawa telah berkembang menjadi Siklon Tropis Bianca. Hujan yang persisten atau awet dan merata di wilayah Pulau Jawa pada hari ini adalah dampak dari siklon tropis yang memiliki kecepatan angin maksimum di pusatnya sebesar 140 kilometer per jam itu.
"Hujan efek siklon tropis masih dapat berlanjut hingga Rabu, namun tergantung pada dinamika siklon," katanya kepada Tempo, Senin malam.
Defara Dhanya berkontribusi dalam penulisan artikel ini.