Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ragam

Tradisi-tradisi Unik Saat Ramadan di Berbagai Negara

Setiap negara memiliki tradisi unik dalam menyambut dan menjalankan puasa di bulan Ramadan.

26 Februari 2025 | 10.51 WIB

Sejumlah warga berziarah ke makam keluarga di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur, Jakarta Barat, 29 Mei 2016.  Sepekan jelang bulan suci Ramadhan TPU mulai dipadati umat muslim yang menjalani tradisi nyekar. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.
Perbesar
Sejumlah warga berziarah ke makam keluarga di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur, Jakarta Barat, 29 Mei 2016. Sepekan jelang bulan suci Ramadhan TPU mulai dipadati umat muslim yang menjalani tradisi nyekar. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

TEMPO.CO - Ramadan merupakan bulan suci yang dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Meskipun ibadah puasa dilakukan dengan cara yang sama, yakni menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa dari fajar hingga magrib, tapi setiap negara memiliki tradisi unik yang berbeda-beda.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

Tradisi-tradisi ini berkembang dari budaya lokal yang berpadu dengan nilai-nilai Islam, menciptakan cara unik bagi masyarakat dalam menyambut dan menjalani ibadah puasa. Berikut beberapa tradisi unik selama Ramadan di berbagai negara.

Nyekar di Indonesia

Di Indonesia, salah satu tradisi yang masih dilakukan menjelang Ramadan adalah nyekar, yaitu ziarah ke makam leluhur, kerabat, dan keluarga mereka. Masyarakat mengunjungi makam keluarga mereka untuk membersihkan area pemakaman, menaburkan bunga, dan berdoa agar almarhum diberikan ketenangan di alam kubur.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Dilansir dari laman The National News, tradisi ini dilakukan sebagai bagian untuk mempererat ikatan keluarga saat umat Islam mempersiapkan diri menghadapi salah satu hari paling suci dalam setahun.

Fanous Ramadan di Mesir

Di Mesir, Ramadan identik dengan Fanous Ramadan, yaitu lentera berwarna-warni yang digunakan untuk menghiasi rumah, jalan, dan masjid. Dikutip dari dari laman Embrace Relief, tradisi Fanous bermula dari Kekhalifahan Fatimiyah, saat Khalifah menyambut bulan suci dengan menerangi jalan-jalan dan masjid dengan lentera. Tradisi ini telah berkembang selama berabad-abad yang melambangkan harapan, kegembiraan, dan cahaya iman yang membimbing umat Islam melewati bulan puasa.

Selain itu, dilansir dari laman Akhuwat Australia, di Negeri Piramida ini juga dikenal tradisi Mawaeed Al-Rahman atau "Meja Rahmat”, yaitu penyediaan makanan gratis bagi fakir miskin selama Ramadan. Meja-meja panjang didirikan di jalanan, baik di lingkungan setempat maupun di daerah miskin, sebagai wujud kepedulian sosial.

Haq Al-Laila di Uni Emirat Arab

Sebelum Ramadan dimulai, anak-anak di Uni Emirat Arab merayakan Haq Al-Laila yang berarti "untuk malam ini", sebuah tradisi yang dilaksanakan pada 15 Sya’ban, di mana anak-anak mengenakan pakaian tradisional dan membawa tas anyaman warna-warni, lalu pergi dari rumah ke rumah setelah salat Magrib untuk bernyanyi dan mendapatkan kacang-kacangan dan permen dari tetangga. Tradisi Haq Al-Laila bertujuan untuk menumbuhkan semangat berbagi sejak dini dan mengajarkan anak-anak tentang pentingnya Ramadan.

Mheibes di Irak

Setelah berbuka puasa, orang-orang Irak berkumpul untuk memainkan permainan tradisional yang disebut Mheibes. Permainan ini biasanya dimainkan dalam dua kelompok, masing-masing dengan 40 hingga 250 pemain, dan mereka bergantian menyembunyikan Mheibes yang merupakan cincin.

Permainan Mheibes bergantung pada strategi dan kelicikan dimulai dengan pemimpin tim memegang cincin dengan tangan yang tersembunyi di bawah selimut, sementara anggota tim lainnya duduk di tangan yang tertutup, dan pemimpin secara rahasia memberikan cincin kepada salah satu pemain lainnya. Gerakan tubuh peserta permainan harus diperhatikan dan lawannya harus menebak siapa yang akan mendapatkan cincin tersebut.

Penembakan Meriam di Bosnia Herzegovina

Di Bosnia dan Herzegovina, Ramadan ditandai dengan dentuman meriam tua yang telah diwariskan turun-temurun. Tradisi yang telah berlangsung berabad-abad ini menjadi penanda waktu berbuka puasa. Warga setempat kerap berkumpul untuk menyaksikan momen ini sambil berpiknik, menciptakan suasana khas yang penuh antusiasme. Saat meriam diletupkan, gemuruhnya disambut sorak-sorai, menambah semarak bulan suci di negeri Balkan itu.

Malam Bulan di India, Pakistan, dan Bangladesh

Malam bulan atau dikenal dengan istilah Chaand Raat merupakan malam terakhir Ramadan yang menjadi ajang perayaan meriah di India, Pakistan, dan Bangladesh. Jalan-jalan di Asia Selatan dipadati warga yang bersiap menyambut Idul Fitri dengan tradisi bertukar makanan manis dan berbelanja perhiasan.

Perempuan berbondong-bondong ke kios henna untuk menghias tangan mereka dan membeli gelang serasi. Tradisi ini telah berlangsung lama, menambah semarak suasana menjelang hari raya. Sementara itu, bazar-bazar lokal dipenuhi antusiasme menunjukkan euforia masyarakat dalam menyambut Idul Fitri.

Tradisi Graish di Kuwait

Dilansir dari laman Raphia, masyarakat Kuwait menjalankan tradisi Graish yang merupakan jamuan makan bersama keluarga dan teman sebelum memasuki bulan puasa sebagai bentuk persiapan spiritual dan kebersamaan. 

Kudapan Khas dan Aktivitas Nafar di Maroko

Pada sepuluh hari menjelang Ramadan, masyarakat Maroko akan mulai menyiapkan kudapan khas seperti Chebakia dan Briouate, yang menjadi hidangan favorit selama bulan suci. Menjelang fajar, nafar, sekelompok pria berpakaian tradisional, berkeliling membangunkan warga dengan tiupan terompet, tradisi yang sudah ada sejak abad ketujuh. Selain itu, drumer keliling juga membangunkan warga untuk sahur, tradisi yang juga ditemukan di Turki, Yordania, Mesir, Suriah, Palestina, serta berbagai negara Timur Tengah dan Afrika Utara.

Barkat Kisasi di Azerbaijan Hingga Tradisi Kumpul di Albania

Pada hari Jumat terakhir Ramadan, para perempun di Azerbaijan akan menjahit kantong khusus bernama Barkat Kisasi atau "kantong berkah" yang akan diisi uang dan disimpan hingga Ramadan berikutnya.

Sementara itu, komunitas muslim di Albania yang memiliki akar sejarah Kekaisaran Ottoman merayakan Ramadan dengan nyanyian balada tradisional. Setiap hari mereka berkumpul di jalanan memainkan lodra yang merupakan drum berbentuk silinder berlapis kulit domba atau kambing sebagai bagian dari perayaan berbuka puasa. 

Sharisya Kusuma Rahmanda berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus