Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sains

3 Faktor Penyebab Hujan Awet Sore-Malam Ini di Jabodetabek

Berikut ini data hujan Jabodetabek dari BMKG dan penjelasan sebabnya dari peneliti BRIN.

27 Februari 2025 | 19.53 WIB

Ilustrasi hujan. (REUTERS/Zoran Milich)
Perbesar
Ilustrasi hujan. (REUTERS/Zoran Milich)

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Berawal dari beberapa wilayah di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat meluas ke hampir seluruh wilayah Jabodetabek pada Kamis malam, 27 Februari 2025.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Peringatan dini cuaca akan potensi hujan itu, yang bisa disertai petir dan angin kencang, telah dikeluarkan BMKG pada pukul 17.15 WIB. "Kondisi ini diperkirakan masih dapat berlangsung hingga pukul 21.00 WIB," bunyi peringatan dini cuaca wilayah Jabodetabek dari BMKG seperti dikutip dari akun Info BMKG di X.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Dalam keterangannya, peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin mengatakan bahwa hujan deras merata di Jabodetabek saat ini adalah bagian dari dampak konvergensi udara yang meluas di selatan Indonesia. Penyebabnya, ada beberapa faktor dengan yang pertama adalah aktivasi oleh Siklon Tropis Bianca.

Kedua, adanya pertemuan antara Gelombang Madden Julian Oscillation dan Gelombang Rossby di bagian timur Indonesia (140-150 derajat Bujur Timur). Erma masih menyebut adanya faktor ketiga, yakni prakondisi pembentukan tekanan rendah di Samudra Hindia. "Penyebab konvergensi meluas karena ada sistem tekanan rendah yang meluas di selatan Indonesia saat ini dan ini indikasi akan terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia," katanya lewat aplikasi pesan WhatsApp.

Prospek Cuaca Pekan Ini dari BMKG

Sebelumnya, BMKG dalam analisis prospek cuaca periode 25 Februari - 3 Maret 2025 juga mengungkap kalau kondisi cuaca di Indonesia diprakirakan masih dipengaruhi Siklon Tropis Bianca di Samudra Hindia selatan Jawa. Siklon tropis yang bergerak menjauh ke arah barat-barat daya ini disebutkan masih memberikan dampak tidak langsung terhadap peningkatan curah hujan di Sumatera bagian selatan dan sebagian Jawa.

Selain siklon tropis, kata BMKG, sirkulasi siklonik juga terpantau di perairan barat Bengkulu dan Laut Arafura selatan Papua Selatan. Sirkulasi-sirkulasi ini memicu pembentukan daerah konvergensi memanjang di Samudra Hindia sebelah barat Lampung dan dari Laut Arafura hingga Papua Selatan bagian selatan. Adapun secara spasial MJO juga masih aktif di sebagian wilayah Maluku Utara, Maluku, serta sebagian besar Papua, yang berpotensi mempengaruhi dinamika atmosfer di daerah tersebut.

Lebih jauh lagi, analisis labilitas lokal menunjukkan potensi signifikan di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua Selatan. 

"Hal ini berpotensi mendukung proses konvektif pada skala lokal yang umumnya terjadi menjelang siang hingga sore-malam hari," kata BMKG.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus