Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sains

Kandungan Lokal Tinggi, Harga Baterai Lithium Bisa Turun Drastis

Indonesia memiliki tambang material untuk membuat bahan baku baterai yaitu nikel.

1 Juni 2019 | 08.36 WIB

Pegawai park24 mengisi baterai Toyota skuter listrik, i-ROAD di Tokyo, Jepang, 22 April 2015. i-ROAD menggunakan mesin istrik 2kW 2 unit dengan baterai lithium-ion dan tidak mengeluarkan gas emisi CO2. (Akio Kon/Bloomberg/Getty Images)
Perbesar
Pegawai park24 mengisi baterai Toyota skuter listrik, i-ROAD di Tokyo, Jepang, 22 April 2015. i-ROAD menggunakan mesin istrik 2kW 2 unit dengan baterai lithium-ion dan tidak mengeluarkan gas emisi CO2. (Akio Kon/Bloomberg/Getty Images)

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

TEMPO.CO, Solo - Salah satu kendala produksi kendaraan di Indonesia adalah mahalnya harga baterai yang dibutuhkan sebagai sumber daya. Meski Indonesia telah mampu memproduksi baterai, bahan bakunya masih harus didatangkan dari luar negeri.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

"Saat ini kami telah mampu memproduksi seribu cell baterai lithium per hari," kata Ketua Tim Pengembangan Baterai Lithium Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Hari Purwanto. Jumat 31 Mei 2019. Baterai produksinya sudah digunakan oleh berbagai mitra, termasuk motor Gesits yang diproduksi oleh Institus Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Hanya saja, dia mengakui bahwa baterai yang dibuatnya masih cukup mahal. "Satu cell-nya seharga Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu," katanya. Padahal, satu unit motor listrik bisa membutuhkan hingga 300 cell baterai.

Tingginya harga baterai disebabkan sebagian besar harga bahan bakunya masih harus impor. "Hingga kini belum ada produsen dalam negeri yang membuat bahan bakunya," katanya. Padahal, Indonesia memiliki tambang material untuk membuat bahan baku baterai yaitu nikel.

"Mulai tahun depan kami akan memproduksi langsung bahan baku untuk baterai lithium," katanya. Nikel yang menjadi bahan baku utama akan didatangkan dari Morowali. "Selama ini nikel lebih banyak digunakan untuk stainless," katanya.

Dia yakin, bahan baku yang diproduksi sendiri akan membuat ongkos produksi pembuatan baterai bisa ditekan. "Harga jualnya bisa kami turunkan hingga menjadi Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per cell," katanya.

Bahan baku yang akan dibuat bisa digunakan untuk memproduksi baterai lithium berbagai type, yaitu Lithium Ferum Phospat (LFP), Lithium Nickel Cobalt Aluminium Oxide (NCA) dan Nickel-Manganese Cobalt (NMC). Masing-masing memiliki kelebihan yang berbeda.

AHMAD RAFIQ

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus