Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sains

Pakar Tsunami Widjo Kongko Bantah Sesar Surabaya Membesar

Pakar tsunami Widjo Kongko membantah informasi yang menyebutkan sesar Surabaya membesar.

22 Februari 2020 | 19.43 WIB

Sesar Surabaya dan Sesar Waru (its.ac.id)
Perbesar
Sesar Surabaya dan Sesar Waru (its.ac.id)

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Pakar tsunami Widjo Kongko membantah informasi yang menyebutkan patahan lempeng bumi membesar di daerah Surabaya dan sekitarnya. Meski benar ada sesar Surabaya, namun potensi gempa hanya satu faktor yang mempengaruhi kerusakan.

"Sesar yang melewati Surabaya telah dipetakan dan tercantum dalam buku Gempa PUSGEN (Pusat Studi Gempa Bumi Nasional) 2017 dengan potensi magnitudo 6,5. Pemetaan yang lebih detail diperlukan karena potensi kegempaan hanya salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kerusakan," kata peneliti senior Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu ketika dihubungi dari Jakarta, Sabtu, 22 Februari 2020.

Sebelumnya, muncul informasi tidak terkonfirmasi di media sosial dan grup-grup pesan singkat yang mengatakan kota Surabaya terancam gempa yang berbunyi sebagai berikut: "Ini dpt info dr group LPMK AAC. Bu Risma minta utk didoakan agar kota Surabaya tdk hancur krn adanya patahan lempeng yg melewati Sukolilo sampe Cerme Gresik Dan patahan yg garis kedua dari Waru ke Krian, Mojokerto, Jombang, Nganjuk sampe Cepu."

Menurut Widjo Kongko, memang terdapat sesar Surabaya yang menurut penelitian dimulai dari kawasan Keputih hingga Cerme. Namun mengenai potensi kehancuran seperti yang disebarkan lewat pesan tersebut, dia mengatakan bahwa perlu pemetaan lebih soal tingkat kerusakan.

Pemetaan yang dimaksud adalah jenis tanah atau batuan dasar. Karena setiap jenis tanah memiliki respons yang berbeda-beda terhadap gelombang seismik gempa.

Hal itu harus dilakukan, kata dia, mengingat potensi risiko yang tinggi di wilayah Surabaya dan sekitarnya bergantung kepada kepadatan penduduk dan bangunan yang berada di sana.

"Tetapi karena wilayah itu memang telah dipetakan dan adanya sesar, maka tentu ada pergerakan yang terus menerus," ujar Widjo.

Oleh karena itu dia mendorong kajian yang lebih rinci terkait daerah tersebut dan potensi-potensi yang ada oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan berbagai pihak seperti lembaga penelitian, universitas, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600
close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus