Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sains

Pesawat Mata-mata AS Menyusup ke Cina, Menyamar Jadi Pesawat Malaysia?

Cina boleh jadi mengirim sinyal ke Pentagon kalau pesawat mata-mata itu sudah diintai.

11 September 2020 | 21.16 WIB

Pesawat pengintai RC-135S Cobra Ball.[missiledefenseadvocacy.org]
Perbesar
Pesawat pengintai RC-135S Cobra Ball.[missiledefenseadvocacy.org]

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

JAKARTA - Sebuah pesawat yang diyakini milik Angkatan Udara AS terbang masuk ke wilayah Cina di langit Pulau Hainan hingga sejauh 55 mil pada Selasa, 8 September 2020. Pesawat mata-mata RC-135W Rivet Joint tersebut diduga mengelabui radar otoritas setempat secara elektronik menggunakan sandi hex pesawat Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) palsu, menyamar sebagai pesawat komersil Malaysia.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pergerakan pesawat itu diungkap lembaga kajian di pemerintahan Cina, South China Sea Probing Initiative (SCSPI) lewat unggahan di akun twitter, pada Jumat, 11 September 2020. SCSPI menampilkan pergerakan dan rute penerbangan yang cukup detil dari pesawat intai dengan kode sandi AE01CE itu setelah meninggalkan pangkalan militer Amerika di Okinawa, Jepang, pada Selasa 8 September 2020.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Pesawat itu terbang menuju barat daya mengikuti cincin Pulau Ryukyu, melewati Taiwan untuk menyusup ke Pulau Hainan, Cina . Pada titik tertentu di rute itu, tiba-tiba sandi AE01CE berubah terbaca menjadi 750548 yang merupakan sandi milik pesawat Malaysia. Pesawat itu kemudian berkeliaran di antara Pulau Hanian dan Kepulauan Paracel yang diklaim sepihak Cina di Laut Cina Selatan.

Sandi hex sendiri merupakan kode unik pengenal setiap pesawat yang terdaftar di ICAO. Sandi tersebut berfungsi untuk mengetahui informasi mengenai pesawat termasuk jenis, asal, serta posisinya di udara.

Belum ada alasan pasti mengapa Amerika melakukan penyamaran tersebut. Kemungkinannya adalah penerbangan itu bertumbukan dengan latihan militer, di laut maupun udara, atau bahkan uji rudal Cina. Sebagai catatan, Pulau Hainan memiliki pangkalan kapal selam Cina yang dilengkapi rudal nuklir.

Popular Mechanics mengutip seorang peneliti intelijen asal Kanada, Steffan Watkins, yang mengatakan kalau AS tidak perlu melakukan penyamaran jika ingin mengintai negara lain. Menurutnya, pengintaian dari luar batas wilayah sudah jamak terjadi.

“Pengintaian dari luar wilayah negara berdaulat adalah legal dan AS melakukannya di lepas pantai Rusia, Suriah, dan Krimea," katanya sambil menambahkan, "Setiap hari ada RC-135 di lepas pantai Rusia. Tapi saya tidak bisa menjelaskan kenapa Amerika melakukan hal yang berbeda untuk mengintai Cina.”

Pengamat militer yang berbasis di Hong Kong, Song Zhongping, mengatakan AS kemungkinan akan melakukan banyak operasi pengintaian di wilayah pesisir Cina di kemudian hari. hal tersebut tidak terlepas dari kekhawatiran negara adidaya itu terhadap militer Cina yang terus berkembang.

“Provokasi seperti itu bisa semakin sering, tapi hal itu bisa jadi peluang besar bagi Cina untuk melatih militernya dalam menghadapi kekuatan militer terbesar di dunia,” ujar Song, dikutip dari SCMP.

SCSPI yang mengunggah semua informasi dugaan penyusupan itu sendiri memiliki dewan penasihat yang diisi perwira aktif di Angkatan Laut dan Tentara Pembebasan Rakyat Cina. Pengumuman yang mereka lakukan bisa jadi mengirim peringatan kepada Pentagon kalau mereka mampu mendeteksi setiap aktivitas mata-mata terhadap wilayahnya, alias si pengintai sudah diintai.

MUHAMMAD AMINULLAH | ZW | POPULAR MECHANICS | SCMP

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus