Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Wayang bocor yang digagas Eko Nugroho menjadi pembuka Festival Royo-royo #1 yang berlangsung di Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan. Festival ini digelar oleh Yayasan Kelola dan Dia.Lo.Gue Artspace mulai 24 Oktober sampai 10 November 2019 bertempat di Dia.Lo.Gue Kemang.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Direktur Yayasan Kelola, Gita Hastarika mengatakan Festival Royo-royo diadakan untuk mendorong partsipasi masyarakat dalam menghidupkan seni budaya yang dilakukan oleh komunitas atau seniman. Selama 20 tahun, yayasan ini ambil bagian di bidang seni dengan cara memberikan hibah kepada komunitas dan seniman untuk terus berkreasi.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Kami berharap masyarakat juga semakin terlibat di dunia seni," kata Gita Hastarika di Dia.Lo.Gue pada Kamis, 30 Oktober 2019. Pernyataan senada juga disampaikan Engel Tanzil, salah seorang pendiri Dia.Lo.Gue Artspace yang turut mendukung ide dan kegiatan Yayasan Kelola.
Dalam pentas pembuka, Studio Eko Nugroho menampilkan kisah seorang perempuan yang berjuang mengasuh anaknya. Cerita berjudul Permata di Ujung Tanduk, ini naskahnya diambil dari novel Gunawan Maryanto. Pentas tersebut tak hanya menghadirkan wayang kontemporer dengan wayang-wayang ciptaan Eko, melainkan juga dilengkapi dengan koreografi, humor dari punawakan.
Pertunjukan Wayang Bocor bertajuk Permata di Ujung Tanduk oleh Eko Nugroho dalam program Royo Royo di Dia Lo Gue Artspace, Jakarta, 24 Oktober 2019. TEMPO/Nurdiansah
"Memang begini konsep wayang bocor. Ada seni rupa seperti basic saya, ada pentas tarinya, pertunjukan, punakawan. Seperti lenong," ujar Eko Nugroho. Wayang Bocor sengaja dibuat untuk memancing masyarakat lebih mudah terlibat dalam seni. "Kami ingin masyarakat bisa mudah membuat pertunjukan seni. Oh, ternyata mudah dan menyenangkan."
Dalam Festival Royo-royo dipamerkan pula arsip pertunjukan Bungkusan Hati dalam Kulkas berupa karakter wayang yang ditancapkan pada batang pohon pisang dan pemutaran video pertunjukan tersebut. Pengunjung bisa menikmati tayangan video yang gambarnya disemprotkan ke dinding.