Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Seni

Berita Tempo Plus

Tindihan dalam Koreografi

Fitri Setyaningsih menyajikan sebuah karya di Teater Salihara yang berkenaan dengan pengalaman sleep paralysis atau yang dalam bahasa Jawa disebut tindihan.

27 Agustus 2022 | 00.00 WIB

Fitri Setyaningsih dalam Sleep Paralysis. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya
Perbesar
Fitri Setyaningsih dalam Sleep Paralysis. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ringkasan Berita

  • Fitri Setyaningsih menyajikan pentas tari Sleep Paralysis di Teater Salihara, Jakarta Selatan.

  • Tari kontemporer yang berangkat dari pengalaman Fitri Setyaningsih yang mengalami sleep paralysis atau tindihan saat tidur..

  • Fitri Setyaningsih adalah koreografer yang karya-karyanya kerap berangkat dari hal-hal personal yang dialami tubuhnya.

BUNYI menjadi aktor tersendiri dalam pertunjukan tari Fitri Setyaningsih. Begitu masuk ke ruangan, penonton disambut oleh semacam deram konstan. Suara komposisi elektronik seakan-akan menekan otak. Penonton dibawa ke suasana low pitched ambience. Frekuensi rendah dalam suasana remang itu membuat kita seolah-olah masuk dalam kungkungan getar berulang-ulang. Kita seolah-olah tidak bisa ke mana-mana, terperangkap dalam gulungan dengung yang berpilin-pilin. Segera kita menyadari bahwa musik menjadi unsur utama dalam membentuk atmosfer pertunjukan bertajuk “Sleep Paralysis” ini.

Hampir sebagian kursi di Teater Salihara, Jakarta Selatan, tak dipakai. Pertunjukan itu hanya memakai seperempat dari keseluruhan jumlah kursi yang biasanya tersedia untuk penonton. Penonton ditempatkan di sisi kiri. Area pertunjukan terasa lebih lapang dibanding area penonton. Betapapun demikian, bidang yang dipakai untuk pertunjukan hanya tepat yang berada di depan barisan tengah penonton. Di situ cahaya yang samar membentuk sebuah titian di lantai berbentuk tiga kotak hitam. Di situlah penari Fitri Setyaningsih dan penari Luluk Ari Prasetya muncul. Mereka berjalan lurus tapi berlawanan arah.

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya
Seno Joko Suyono

Menulis artikel kebudayaan dan seni di majalah Tempo. Pernah kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Pada 2011 mendirikan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) dan menjadi kuratornya sampai sekarang. Pengarang novel Tak Ada Santo di Sirkus (2010) dan Kuil di Dasar Laut (2014) serta penulis buku Tubuh yang Rasis (2002) yang menelaah pemikiran Michel Foucault terhadap pembentukan diri kelas menengah Eropa.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus