Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
TEMPO.CO, Jakarta - Kleine Levin Syndrome (KLS) adalah sebuah penyakit misterius dan langka yang menyebabkan penderitanya tertidur dalam jangka waktu yang panjang. Di samping berdampak pada perubahan tingkah laku dan nafsu, penyakit ini juga memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan sosial penderita serta orang di sekitarnya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Seperti dilansir laman Huffington Post, John Flowe, 30 tahun, seorang suami dan ayah dari dua orang anak, sudah mengidap penyakit ini sejak remaja. Seiring dengan bertambahnya usia, Flowe semakin sering tertidur. Baca: Sindrom Sleeping Beauty, Adakah Obatnya
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Flowe terpaksa melewatkan beberapa peristiwa penting dalam hidupnya, seperti ulang tahun, Natal, dan bahkan tumbuh kembang anaknya pun terpaksa terlewatkan. Semuanya semakin tidak mudah ketika kesadaran Flowe akan orientasi waktu juga terenggut. Ia tidak bisa mengingat di mana berada dan apa yang terjadi sebelum tidur.
Seorang penderita KLS tidak dapat memprediksi kapan dia akan tidur dan kapan hendak bangun. Jarak waktu mulai dari tidur hingga bangun disebut episode. Alhasil, nyaris mustahil bagi penderita KLS untuk berkarier maupun memperoleh edukasi tanpa adanya perlakukan khusus. Baca juga: Gadis di Banjarmasin Kena Sindrom Sleeping Beauty, Bukan Dongeng
Dalam beberapa kasus, penderita KLS terpaksa berada dalam pengawasan intensif dan membuat mereka terbatasi aktivitasnya dan tidak memiliki kesempatan untuk bersosialisasi. Mereka juga memiliki masalah psikologis, seperti suka mencari perhatian, haus kasih sayang, mudah curiga terhadap orang-orang terdekatnya, dan kesehatan yang secara umum menurun.
“Kehidupan sosial yang terganggu dan tanggung jawab yang tidak dapat terpenuhi menjadi masalah utama pasien,” kata Kailash Mantry, pakar kesehatan mental dan jiwa. Baca juga: Gejala Sindrom Sleeping Beauty, Antipati Sampai Hiperseks
Penderita KLS atau yang lebih dikenal dengan sindrom Sleeping Beauty sering terpaksa kehilangan banyak kesempatan, seperti melewatkan acara keluarga, tidak mempunyai keberanian untuk menerima tantangan, rasa percaya diri yang rendah, tidak berhasrat untuk menggapai cita-cita, skeptis, cenderung berpikir negatif, dan kemampuan berkomunikasi yang rendah.
Bahkan, Mantry mengatakan pasien tidak menemukan lagi alasan untuk bangun dan merasa takut terhadap perubahan yang akan dihadapinya ketika bangun. “Hal ini menyebabkan mereka cenderung defensif terhadap masa depan.”
SATRIA DEWI ANJASWARI