Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
PESAWAT milik tentara Indonesia terbang rendah di kawasan Hollandia—kini Jayapura—pada pertengahan Juli 1969. Seiring dengan suara bising yang memekakkan telinga, kertas-kertas berwarna cokelat berhamburan dari burung besi itu. Isinya menceritakan hasil Penentuan Pendapat Rakyat atau Pepera di Kabupaten Merauke.
Paulus Rey masih duduk di kelas I Sekolah Menengah Pertama YPPK Santo Paulus Abe Jayapura ketika hujan selebaran mengepung Hollandia. Memungut kertas itu, Paulus membaca keterangan bahwa masyarakat Merauke setuju menjadi bagian dari Indonesia. “Setiap Pepera di satu daerah selesai, pasti ada pesawat menyebar kertas,” kata Paulus kepada Tempo di Distrik Heram, Selasa, 25 Juli lalu.
Pamflet tersebut juga menyertakan ketikan pidato Frans Kaisiepo, saat itu Gubernur Irian Barat. Frans salah satu penanggung jawab Pepera. Buku berjudul Pahlawan Nasional Frans Kaisiepo terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1996 menyebutkan pidato itu menyatakan Pepera telah dilaksanakan melalui musyawarah yang diwakili Dewan Musyawarah Pepera.
Hasil sidang itu sah setelah ditandatangani atau diberi cap jempol 175 perwakilan masyarakat di Merauke. “Indonesia akan membawa kemajuan bagi rakyat Irian,” ujar Frans seperti tercantum dalam nukilan teks pidato Pepera Merauke. Setelah di Merauke, Pepera berlangsung di Jayawijaya, Paniai, Fakfak, Sorong, Manokwari, Teluk Cenderawasih, dan Jayapura.
Frans mengawal berjalannya Pepera dari satu tempat ke tempat lain. Dokumen pidato Frans menunjukkan ia memberikan pengantar untuk membuka pelaksanaan Pepera di semua titik. Adapun pemungutan suara Pepera berlangsung pada 17 Juli-2 Agustus 1969.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Pil Pahit Nakhoda Pepera"