Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
SUKA atau tak suka, Setelah Lewat Djam Malam karya Yudi Tajudin membawa gambar hidup ke panggung pementasan teater yang tak lagi digunakan sebagai sebatas dekorasi atau pembawa suasana: adegan demi adegan merupakan “gambar” tiga dimensi yang terbentuk dari aktor di panggung berpadu dengan gambar film yang disorotkan ke layar. “Gambar-gambar” yang mungkin liris, impresif, juga ekspresif. Perpaduan yang mungkin harmonis, kadang kontras: siluet seseorang yang membayang di depan sebuah potret mungkin tanaman-tanaman di taman; dua pemeran diam berdiri mengapit seorang pemeran dalam film; adegan meja makan dengan latar gelapnya malam; atau adegan dansa di lantai atas, seorang laki-laki diam berdiri di panggung bawah, dan sebuah closeup wajah perempuan disorotkan ke layar sepenuh panggung. Agaknya pertunjukan ini membukakan pintu ke arah perpaduan teknologi digital dengan teater lebih jauh. Garasi Performance Institute serta KawanKawan Media memadukan film dan teater sedemikian rupa sehingga pertunjukan lebih dari satu jam tersebut tak lagi “dikotomis”—bahwa ini teater, itu film.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo