Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Berita Tempo Plus

Jabatan Kosong Bintang Empat

Sejak lulus dari pendidikan kepolisian, Hoegeng dekat dengan Sukarno. Hubungannya dengan Soeharto diwarnai berbagai konflik.

14 Agustus 2021 | 00.00 WIB

Pelantikan Hoegeng Iman Santoso menjadi Menteri Iuran Negara oleh Presiden Soekarno, tahun 1965./Dok. Keluarga Hoegeng
Perbesar
Pelantikan Hoegeng Iman Santoso menjadi Menteri Iuran Negara oleh Presiden Soekarno, tahun 1965./Dok. Keluarga Hoegeng

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ringkasan Berita

  • Sukarno meminta Hoegeng membantu meloloskan barang impor dari Jepang.

  • Soeharto tak mendukung Hoegeng mengusut kasus Sum Kuning.

  • Soeharto menolak kehadiran Hoegeng di pernikahan putrinya.

BERHADAPAN dengan anak muda kurus di hadapannya, Presiden Sukarno langsung mengajukan protes suatu waktu pada 1952. Berdiri di depannya perwira kepolisian bernama Hoegeng Iman Santoso yang baru lulus dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian atau PTIK. “Bung Karno bilang nama orang Jawa seharusnya ‘Sugeng’,” kata Aditya Susanto, anak kedua Hoegeng, kepada Tempo, akhir Juli lalu. Aditya mendapat cerita tentang pertemuan itu langsung dari ayahnya.

Hari itu, presiden pertama Indonesia tersebut sedang menyapa satu per satu lulusan angkatan pertama PTIK. Hoegeng satu di antaranya. Sukarno meminta laki-laki 31 tahun itu mengganti namanya agar lebih njawani. Namun Hoegeng menolak permintaan tersebut karena nama itu pemberian orang tuanya.

Presiden akhirnya mengusulkan Hoegeng mengubah namanya sekalian menjadi Sukarno. Ia kembali menolak. Hoegeng menyatakan nama Sukarno sudah dipakai oleh orang di rumahnya. Sukarno lantas menanyakan siapa pengguna nama yang sama dengannya. “Mohon maaf, pembantu kami di rumah,” jawab Hoegeng. Sukarno tergelak.

Aditya meyakini pertemuan itu membuat hubungan keduanya menjadi dekat. Setelah perkenalan itu, Hoegeng dan istrinya, Meriyati, beberapa kali diundang Sukarno untuk minum teh di Istana Bogor, Jawa Barat. Dalam satu perjamuan, Sukarno meminta bantuan Hoegeng, yang menjabat Kepala Jawatan Imigrasi periode 1960-1965, meloloskan barang dari Jepang di kepabeanan. Barang itu milik Naoko Nemoto—dikenal sebagai Ratna Sari Dewi, istri kelima Sukarno.

Hoegeng lalu menawarkan dua cara kepada Bung Karno. Pertama, Sukarno membuat surat dengan kop Presiden RI kepada Hoegeng untuk meloloskan barang tersebut. Kedua, mengubah undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. Mendengar jawaban itu, Sukarno menyerah dan memilih mengeluarkan biaya sendiri untuk urusan bea masuk.

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya
Syailendra Persada

Syailendra Persada

Lelaki asal Tegal ini menjadi wartawan Tempo sejak 2011 setelah lulus dari Jurusan Sastra Inggris Universitas Diponegoro. Sebelum menjadi pengelola kanal Nasional di Tempo.co, ia berkecimpung di Desk Hukum majalah Tempo. Memimpin sejumlah proyek liputan interaktif di Tempo.co, salah satunya "Kisah di Balik Terali Besi” yang menceritakan penyiksaan tahanan oleh aparat. Liputan ini hasil kolaborasi dengan International Center for Journalists.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus