Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Malunya mbah dukun

Kalung mbah tawi, dukun di kampung kelapa jajar, ciamis, jabar, kena jambret di pasar ciamis. ia di kenal sebagai dukun tokcer dan mempunyai izin praktek dari kejaksaan ciamis.

7 Maret 1992 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

DUKUN kehilangan kalung, mungkin tak seberapa. Tapi, malunya ini yang tak tertahankan. Itu dia Mbah Tawi, 71 tahun, yang kena jambret di Pasar Ciamis, Jawa Barat, Selasa awal Februari lalu. Ibu tiga anak ini baru sekitar sepuluh menit tiba di pasar, eh, mendadak ada dua orang yang mengendarai sepeda motor menghadangnya, dan membetot kalung emas yang melingkar di lehernya. Perhiasan seberat 30 gram itu ternyata alot sehingga lelaki di atas motor itu gagal menariknya. Belum putus asa, si penjambret turun dari motor, mengambil gunting dari pinggangnya, dan tess, kalung itu pamit dari leher juragannya. Mbah Tawi hanya terperangah. Baru setelah dua penjambret itu kabur, ia memekik minta tolong. Tapi telat sudah. Orang di sekitarnya hanya bisa mengantarkan Mbah Tawi pulang. Meski kalungnya menguap, toh si Mbah masih merasa beruntung. "Leher saya nggak apa-apa, untung," katanya sambil memegang lehernya. "Huh, reuwas, cepet pisan kajantenanna" tambahnya dalam bahasa Sunda. Maksudnya, kejadiannya cepat sekali. Mbah Tawi adalah warga Kampung Kelapa Jajar, Ciamis, dan sehari-hari dikenal sebagai dukun yang lumayan tokcer. Di rumahnya terpampang tanda izin praktek dari Kejaksaan Ciamis. Izin itu berlaku sampai September 1992. Di depan pintu rumahnya ada papan warna biru yang bertuliskan: "Selasa dan Sabtu, Praktek Tutup". Pasien yang datang ke sana membawa serba ragam kepentingan. Ada yang minta enteng jodoh, atau murah rezeki, dan sebagainya. Menurut seorang tetangganya, tiap hari rata-rata ada 20 pasien yang datang kepada si Mbah. Sebagian besar adalah untuk minta tolong karena kehilangan barang -- baik lantaran dicuri maupun hilang tak tentu rimbanya. "Biasanya, kalau ada barang hilang, bisa kembali setelah dijampi Mbah Tawi," kata seorang tetangganya, yang juga pernah ditolong si Mbah untuk urusan ini. Menurut Mbah Tawi, ia mendapatkan ilmunya sejak 20 tahun silam. Belajar dari mana? "Ah, nggak tahu, tahu-tahu datang sendiri," katanya. Mengenai kejadian yang menimpanya tadi, Mbah Tawi seakan baru ngah. "Salah Mbah sendiri, mengapa hari Selasa jalan-jalan. Kan, pantang," ujarnya sambil ketawa kepada Ahmad Taufik dari TEMPO. Baiklah. Tapi, mana ilmu Mbah Tawi yang bisa membikin gerah sang jambret? "Ah, ogah, ah, isin," jawabnya.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
>
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus