OLEFIN itu apa? Masyarakat awam bertanya-tanya, terutama sesudah megaproyek olefin Chandra Asri diloloskan oleh Tim PKLN. Dengan uang senilai Rp 3 trilyun yang dipertaruhkan, apakah olefin itu layak dan apa saja manfaatnya? Pertama-tama sederhana saja, yaitu bahwa olefin adalah bijih plastik. Sebagai bahan setengah jadi, bijih plastik ini bisa diolah menjadi aneka produk, mulai dari tas plastik, pipa ledeng, sepatu boot, karpet, benang nilon, karet sintetis, maupun selang infus. Namun, sebenarnya, tak terlalu tepat menyebut olefin sebagai bijih plastik. Olefin bisa diartikan sebagai kelompok senyawa tidak jenuh, yang mempunyai satu atau dua rantai yang diperoleh dengan cracking atau pemecahan nafta pada temperatur 1.500 sampai 1.700 derajat Fahrenheit. Bahan baku olefin adalah nafta, yang saat ini dihasilkan oleh kilang minyak Pertamina Cilacap, Balikpapan, dan Dumai dengan total kapasitas 3,2 juta ton per tahun. Yang disebut nafta adalah suatu produk dari proses pengilangan minyak bumi. Dari nafta bisa diperoleh bahan bakar minyak yang disebut premium, kerosin, solar, minyak bakar, dan residu. Dalam proses pengilangan premium tadi, masih tersisa nafta ringan dan nafta berat. Yang menjadi bahan baku industri petrokimia untuk diekspor Pertamina -- juga digunakan sebagai bahan baku PT Chandra Asri -- adalah yang tergolong nafta berat. Sebenarnya, olefin bisa juga diproses dari liquid natural gas (LNG) maupun liquid petroleum gas (LPG). Beberapa industri olefin di Muangthai, Jepang, dan Korea, misalnya, menggunakan bahan baku LNG yang sebagian diimpor dari Indonesia. Namun, untuk Indonesia yang mengekspor LNG, tentu akan lebih baik jika bisa menggunakan sendiri nafta itu sebagai bahan baku. Kelak di Chandra Asri Petrochemical Centre (CAPC), nafta berat itu akan dipecah dengan temperatur tinggi hingga diperoleh senyawa yang disebut ethylene, propylene, butene, butaedine, dan isobutene. Senyawa-senyawa itulah yang diolah lebih lanjut menjadi aneka ragam produk. Untuk memperoleh polyvinyl chlorida (PVC), misalnya, diperlukan gabungan senyawa ethylene dengan chlorida. Kemudian ethylene chlorida dipolimerisasi sehingga menghasilkan vinyl chlorida monomer (VCM) yang kembali dipolimerisasi untuk menghasilkan PVC. Baru industri hilir bisa menggunakan PVC untuk pembuatan pipa atau sepatu boot. Saat ini ada tiga pabrik penghasil PVC di Indonesia, yaitu Standard Toyo Polimer, Asahi Subentra, dan Estern Polymer, dengan kebutuhan VCM sekitar 220.000 ton per tahun. Itu berarti, dengan memperhitungkan loss dalam proses produksi, setiap tahun ketiga pabrik itu membutuhkan sekitar 250.000 ton ethylene. Padahal, PVC hanyalah salah satu produk yang bisa diturunkan dari ethylene. Masih ada lagi bahan untuk industri perekat maupun cat yang dihasilkan lewat gabungan senyawa ethylene dengan acetic acid. Atau rangkaian senyawa polyethylene yang merupakan bahan baku untuk kemasan plastik. Lantas jika propylene -- senyawa lain yang akan dihasilkan CPAC -- diolah dengan acrylonitril, akan dihasilkan serat sintetis. Sedang jika digabung dengan oxyde atau glycol, akan dihasilkan polyol, yang merupakan bahan baku untuk selang infus dan peralatan medis dari plastik lainnya. Adapun gas-gas butene, butaedine, dan isobutene bisa diolah menjadi berbagai produk karet sintetis. Kelak, banyak sekali industri hilir yang memanfaatkan olefin. Kebutuhan akan olefin juga akan meningkat terus. "Kita sangat membutuhkan proyek itu, mengingat laju pertumbuhan industri plastik setiap tahun sekitar 10%," kata seorang staf dari Indochlor -- industri yang membutuhkan ethylene. Di samping itu, ekspor nafta yang dilakukan Pertamina selama ini ternyata merugikan. Soalnya, nafta itu dilepas dari Indonesia dengan harga US$ 180 ton, sedangkan bijih plastik yang dihasilkan dari nafta itu dijual lagi ke Indonesia dengan harga US$ 900 ton. Konon, biaya operasi tak sampai US$ 600 ton. Dengan kalkulasi harga bahan baku dan harga jual di atas, serta pasar dalam negeri yang terbuka luas, tak heran jika Prajogo Pangestu putar akal untuk bisa merealisasi Chandra Asri. Dan sebegitu juauh, ia tampaknya berhasil. Liston P. Siregar, Max Wangkar, Indrawan
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini