Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Pendiri Institut Musik Jalanan (IMJ) Andi Malewa menanggapi video viral seorang musisi tunanetra bernama Ridho terpaksa jadi pengamen di pasar karena pandemi Covid-19.
Andi mengatakan Ridho menjadi korban akibat tidak diizinkan bermusik lagi di mal kawasan Depok. Ridho yang merupakan tunanetra mau tak mau terpaksa mengamen di pasar tanpa ada protokol kesehatan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Ridho itu jadi korban. Akhirnya dia bilang mau ngamen lagi di pasar," kata Andi saat dihubungi, Senin, 31 Agustus 2020.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Menurut Andi, IMJ sempat mengurus kerja sama agar para musisi jalanan tunatera dapat kembali bermusik di mal. Mereka telah mendapat izin dari sebuah mal di Depok untuk bernyanyi di sana dengan protokol kesehatan yang ketat.
Dalam unggahan Instagram @institutmusikjalanan, penampikan perdana musisi IMJ dilakukan di Pesona Square Mall Depok pada 18 Juni 2020. Namun konser pengamen IMJ itu dilaporkan ke dinas Kota Depok sehingga pengelola mal di Depok itu tidak diperbolehkan lagi menggelar pertunjukan musik.
Pada saat itu, Ridho harus berhenti menyanyi di lagu kedua. "Akhirnya sejak saat itu tidak ada lagi mal yang berani buka ruang pentas ekspresi buat pengamen," ucap Andi.
Padahal IMJ telah menerapkan protokol Kesehatan bagi para musisinya, seperti melakukan sterilisasi pada alat musik sebelum tampil hingga menyiapkan kode QR sebagai wadah pemberian apresiasi dari pengunjung. Sewaktu pertunjukan Ridho juga tak ada kerumunan orang. Polisi pun berjaga di kiri kanan panggung.
Ridho lalu memutuskan mengamen di tempat lain, salah satunya pasar. Sebab Ridho tetap harus mencari nafkah. Keputusan musisi jalanan itu bertentangan dengan aturan IMJ bahwa setiap anggota tidak boleh bermusik di sembarang tempat.