Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

Cerita Dato Sri Tahir Soal Beda Budaya dengan Keluarga Mochtar Riady

Pengusaha Dato Sri Tahir bercerita pengalaman dirinya saat pertama kali masuk keluarga konglomerat Mochtar Riady.

27 Maret 2022 | 14.57 WIB

Founder Mayapada Group, Dato Sri Tahir saat menjadi narasumber dalam acara The Founders bertajuk "How To Be A Good Entrepreneur" di Gedung TEMPO, Jakarta, Rabu, 27 Maret 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis
Perbesar
Founder Mayapada Group, Dato Sri Tahir saat menjadi narasumber dalam acara The Founders bertajuk "How To Be A Good Entrepreneur" di Gedung TEMPO, Jakarta, Rabu, 27 Maret 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta -Konglomerat Dato Sri Tahir bercerita tentang pertama kali dirinya masuk ke keluarga Mochtar Riady yang memiliki budaya keluarga yang berbeda. Yakni saat dia menikahi Rosy Riadi-putri Mochtar Riady. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Menurut Dato Sri Tahir, filosofi Tionghoa begitu kental terasa dianut keluarga Mochtar Riady--pemilik Lippo Grup. Diantaranya mengutamakan anak laki-laki. Sedangkan Tahir dibesarkan dengan ajaran Barat yang mengedepankan kesetaraan.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

“Ini culture yang berbeda dan tidak mudah untuk menyesuaikan. You mau menyesuaikan culture belum tentu lawan mau terima. Jadi kita mau masuk ke keluarga Riady belum tentu dia mau terima. Culture lawan culture is the most difficult loh ya,” kata Tahir dalam unggahan video Youtube @gt.bodyshot milik putrinya, Grace Tahir pada Kamis, 24 Maret 2022.

Di depan Grace, Tahir bercerita bahwa peleburan soal budaya dalam keluarga ini tidak mudah. Sampai saat ini pun, Tahir merasa belum bisa melebur dengan budaya keluarga Riady.

Saat pertama kali menikahi Rosy Riady, dia pun juga langsung dinyatakan oleh Mochtar Riady bahwa dirinya tidak boleh bekerja di perusahaan milik keluarga Riady. Padahal saat itu pun Tahir belum memiliki pekerjaan yang jelas dan tidak menolak fakta bahwa ada perbedaan level di keluarga.

Setelah dinyatakan seperti itu oleh Mochtar Riady, Tahir percaya diri bisa mengalahkan mertuanya suatu hari nanti. Istrinya, Rosy Riady, tetap mendampingi dan mendukung Tahir untuk memperjuangkan karir.

“Waktu saya muda saya bilang begini, it’s ok. Lalu pak Mochtar bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan?” Saya bilang jelas kepada pak Mochtar: One day, I’ll beat you,” tuturnya.

Tahir mengatakan saat pertama kali menjadi bagian dari keluarga Riady terasa ada pagar yang memisahkan karena budaya keluarga. Dia membayangkan ada pagar yang membatasi meskipun diundang oleh keluarga dari istrinya.

“Saya hanya mengumpamakan bahwa hubungan saya dengan keluarga Riady itu saya di-welcome tapi di luar pagar. Jadi shake hand saja di luar pagar, tapi there is a fence. Ini menurut saya there’s nothing wrong,” ujarnya.

Dia juga mengatakan di depan Grace, bahwa dirinya tidak pernah membayangkan menjadi seseorang yang besar. Namun Tahir percaya diri akan menjadi seseorang yang besar dengan perjuangannya.

Menurutnya, empat kesatuan seperti menyesuaikan ekosistem, good work, social work, dan kehadiran terhadap yang diinginkan adalah sesuatu yang membentuk dirinya. Sehingga sejak usia muda dia bekerja keras menghidupi dirinya dan keluarga karena hidup dengan keterbatasan.

Bagi Tahir, peran keluarga sangat penting untuk membentuk kepribadiannya sampai seperti sekarang ini. Orang tuanya pun telah meninggalkan warisan keteladanan dan panutan yang baik.

Number one is my parents yang meninggalkan teladan, panutan yang baik, how to be a good man, how to build proper person, how to be leaders, how to love your family,” tuturnya.

Tahir juga mengatakan banyak para guru yang mengajarinya selama hidup. Dia mengungkapkan bahwa dari sekolah yang mengajarkan budi pekerti dan lingkungan masyarakat yang tutur mendidik melalui teguran dan kritikan.

Majalah Forbes menempatkan Tahir dan keluarga berada di peringkat ke-16 pada daftar 50 orang terkaya Indonesia 2021. Saat itu tercatat total kekayaannya mencapai US$ 2,5 miliar atau bila dirupiahkan mencapai Rp 35,9 triliun.

M. Faiz Zaki

Menjadi wartawan di Tempo sejak 2022. Lulus dari Program Studi Antropologi Universitas Airlangga Surabaya. Biasa meliput isu hukum dan kriminal.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus