Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Solo - Popularitas Pasar Gede Hardjonagoro sebagai salah satu destinasi wisata kuliner di Kota Solo semakin melambung setelah media ramai memberitakan dua warung langganan Presiden Joko Widodo, nasi liwet Bu Sri dan dawet selasih Bu Dermi, di pasar yang berdiri sejak 1930 itu.
Seperti diketahui, di sela kesibukannya yang luar biasa, Presiden Jokowi sesekali meluangkan waktu ke pasar bersejarah hasil rancangaan Thomas Karsten, arsitek kenamaan dari Belanda pada masa kolonial, itu untuk menyantap dua menu favoritnya semasa masih menjabat Wali Kota Surakarta.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca juga: Kampung Durian Banyuwangi, Target Baru Penggila Kuliner
Sekarang bukan hanya kalangan wisatawan dari luar kota saja yang asik berburu pengalaman menggoyang lidah di pasar yang terletak di jantung Kota Solo itu. Di tengah padatnya jadwal blusukan demi menggalang dukungan di Solo Raya menjelang Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2018, calon Gubernur Jawa Tengah nomor urut satu Ganjar Pranowo pun menyempatkan bertandang ke Pasar Gede, Jumat, 23 Maret 2018.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Pembeli berjubel menikmati minuman Dawet Telaisih Bu Dermi di Pasar Gede, Solo. Tempo/Ahmad Rafiq
Meski telah menandaskan semangkok soto di warung Bu Harini yang legendaris di Pasar Gede, sebagai menu sarapan pagi, perut Gubernur Jateng non-aktif itu masih minta diisi. Walhasil, setelah menyusuri lorong-lorong sempit di Pasar Gede, pria jangkung berambut putih itu menghentikan langkahnya di lapak dawet selasih Bu Sipon.
"Enak tenan (betul) ternyata," kata Ganjar setelah menyeruput dawet selasih. Selasih (basil) adalah segolongan tanaman berbatang lunak yang daun, bunga, dan bijinya dimanfaatkan untuk rempah-rempah dan penyegar. Selain bertaburkan biji selasih yang berwarna hitam, dawet selasih juga berisikan bubur sumsum, cendol hijau, ketan hitam, tape ketan, dan potongan nangka.
Di Pasar Gede, lapak dawet tesalih Bu Sipon sama terkenalnya dengan warung Bu Dermi. Selain itu, juga masih ada warung dawet Bu Watik dan Bu Siswo yang juga sering menjadi jujugan para pelancong. Tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk semangkok dawet selasih. Cukup sodorkan selembar uang Rp 10 ribu, anda masih akan mendapat kembalian.
Setelah menyantap dawet, Ganjar melanjutkan blusukannya di pasar yang mendadak ramai karena banyaknya pembeli dan pedagang yang berebut demi sekadar berjabat tangan hingga mengajak berswafoto dengan kamera ponsel. Saat salah seorang pedagang menyebutkan daerah asalnya dari Tawangmangu, Ganjar sejenak tertegun.
"Tawangmangu, wah dadi kangen omah (jadi kangen rumah)," kata Ganjar yang masa kecilnya pernah tinggal di Tawangmangu, sebuah kecamatan nan sejuk di lereng Gunung Lawu sisi barat wilayah Kabupaten Karanganyar yang terkenal dengan obyek wisata alamnya.
Setelah dua jam menyusuri Pasar Gede, pasar tradisional terbesar dan terlengkap di Kota Solo, Ganjar bersama rombongannya melanjutkan perjalanan mengunjungi pabrik garmen PT. Delta Dunia Textil di Kabupaten Sukoharjo.
Simak artikel menarik lainnya seputar kuliner di Tempo.co.
DINDA LEO LISTY
Artikel Lain: Petualangan Kuliner Mencicipi 3 Nasi Campur di Pamekasan