Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Magelang - Mengunjungi tempat wisata, tak selalu identik dengan berswafoto maupun berkuliner saja. Ada juga jenis wisata edukasi yang bisa membuat pengunjung terhibur sekaligus menambah pengetahuan. Salah satu wisata edukasi menarik yang bisa dikunjungi untuk rekreasi sekaligus menambah ilmu adalah Rumah Tenun Magelang.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Wisata edukasi yang terletak di Jalan Raya Bandongan KM 7, Jati Lor, Tonoboyo, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang itu cocok dikunjungi wisatawan dari berbagai usia dan kalangan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Setibanya di Rumah Tenun Magelang, pengunjung bakal diajak berkeliling melihat beberapa tanaman yang digunakan sebagai serat tenun lengkap dengan penjelasan dari pemandu terkait asal dan proses perawatannya.
Kepala Rumah Tenun Magelang Saleh mengatakan awalnya rumah tenun ini hanyalah sebuah pabrik kain tenun bernama Retota. "Kalau pabrik tenun sudah ada sejak 1990 an, tetapi dulu belum dibuka untuk umum, baru dijadikan wisata edukasi pada 2017," kata dia saat ditemui Tempo di Rumah Tenun, Kamis, 15 Juni 2023.
Menurut Saleh, dikembangkannya pabrik tersebut menjadi wisata edukasi agar masyarakat mengetahui proses pembuatan serat alam hingga menjadi kain tenun. "Terkadang masyarakat tahu nama tanaman dan hasilnya, seperti eceng, mendong, tetapi tidak tahu wujud tanamannya seperti apa," ujarnya.
Kegiatan wisata di Rumah Tenun
Marketing Rumah Tenun Magelang Laila mengatakan ada 8 bahan tanaman yang digunakan sebagai bahan utama produk tenun. "Delapan tanaman tersebut yakni mendong yang diambil dari Sleman, DIJ. Lalu, kudzu dari Sumatera Utara, akar wangi dari Garut, kenaf dari Lamongan dan abaca dari Sulawesi Utara. Kemudian, pohon rami dari Wonosobo, pandan gunung dari Borobudur, serta eceng dari Sukoharjo," kata dia.
Sambil berkeliling kebun, Laila menunjukkan berbagai jenis tanaman yang dimaksud serta menunjukkan hasil yang sudah diolah untuk menjadi bahan utama karya tenun. Usai melihat berbagai tanaman bahan tenun, pengunjung bakal diajak melihat cara pembuatan dan prosesnya.
"Proses pertama pembuatan ada ngetheng atau menimpal benang ke kayu sebelum diolah menjadi tenun," kata Laila.
Setelah ngetheng, Laila mengatakan proses selanjutnya adalah nyucuk dan nyisir. Proses tersebut ia ibaratkan seperti membuat pola jahitan.
Pada proses tersebut, kata Laila, benang alami juga dimasukkan ke dalam mata gun depan dan belakang atau sesuai dengan instruksi.
Adapun proses sisir, terdapat dua jenis, yakni 1-1 atau setiap sisir diisi satu serat, tidak ada yang terlewati. Dan 1-0-1 atau satu sisir diisi serat, satu lagi kosong dan satu lagi diisi.
"Tahapan selanjutnya yaitu dirapikan dan diikat sesuai dengan tegangan yang diberikan. Seratnya dibagi beberapa, kamudian diambil tengah dan ditali," kata Laila.
Jika semua telah selesai, maka para pengrajin baru bisa masuk ke tahap menenun dengan menggunakan benang awalan dan kayu terlebih dahulu. "Semuanya dilakukan secara manual dengan alat tenun. Penenun biasanya menggunakan satu kaki untuk menjalankan alat itu," kata Laila.
Dikatakan Laila, proses pembuatan tenun juga melibatkan 2.000 ibu rumah tangga di sekitar Bandongan yang masing-masing memiliki tugas sendiri. "Ada yang tugasnya nyuir, memilah, mengikat, sudah dikelompokkan dan ada koordinatornya sendiri," kata dia.
Meski begitu, setiap proses yang dilakukan tetap melalui Quality Control lebih dari sekali karena bahan tenun yang dihasilkan harus benar-benar presisi dan ukurannya tetap. "Butuh ketelitian tinggi untuk mendapatkan hasil kain tenun yang berkualitas dan benar-benar bagus," kata Laila.
Terlebih, para pembeli produk Rumah Tenun biasanya adalah orang-orang yang benar-benar memahami karya, memiliki selera dan detail rinci.
Laila mengatakan pengunjung yang ingin datang berkeliling dan melihat proses menenun disediakan tiket masuk. Adapun rincian harga tiketnya, yakni Rp 100.000 per orang, hanya tur dari tanaman hingga weaving, Rp 150.000 untuk mendapat tur dan snack, Rp 200.000 mendapat tur, snack dan makan siang hingga paket lengkap Rp 250.000 mendapat tur, snack, makan siang dan suvenir kecil.
Sedangkan untuk siswa-siswi sekolah, Laila mengatakan ada harga khusus, yakni dalam kota Magelang Rp 25.000 per anak mendapat tur dan snack sedangkan Rp 35.000 untuk kota.
Laila mengatakan siswa-siswi yang datang biasanya ada berbagai usia, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga mahasiswa. "Pengunjung yang ingin berwisata bisa datang Senin hingga Jumat dibuka mulai pukul 08.00-16.00 dan Sabtu 08.00-14.00," kata Laila.
Demi kenyamanan, Laila mengatakan pengunjung yang datang dibatasi maksimal 50 orang per kelompok tur. "Pengunjung juga harus konfirmasi pemesanan kunjungan, dibatasi supaya lebih fokus memperhatikan penjelasan guide dan kami juga lebih mudah dalam memberikan layanan maupun pengawasan," kata dia.
Laila mengatakan ada enam pemandu yang bakal menemani para pengunjung yang terbagi ke dalam 10 orang per grup. Bukan cuma bakal puas berkeliling dan menambah ilmu, pengunjung juga bisa melihat hasil karya tenun seperti pouch, tas, sarung bantal, table runner, llnhingga box lilit.
Harganya pun bervariasi mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 1,5 juta tergantung jenis bahan atau serat yang digunakan.
Produk Rumah Tenun bukan hanya dijual lokal saja, bahkan sudah di ekspor hingga ke Amerika dan Eropa. "Untuk produk yang dijual di pasar Indonesia, kebanyakan tidak berupa tirai. Bisa berupa pernak-pernik lainnya, karena lebih diminati," kata Laila.