Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Cirebon, kota kecil yang terletak di Provinsi Jawa Barat, ternyata menyimpan sejuta keindahan sejarah yang masih terjaga hingga kini. Salah satunya adalah tiga keraton megah yang berdiri kokoh di tengah kota, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Tiap keraton memiliki ciri khasnya masing-masing dan menawarkan pengalaman berbeda bagi para pengunjung yang ingin merasakan keindahan masa lalu Cirebon.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Di bawah ini adalah penjelasan singkat mengenai ketiga keraton di Cirebon yang memiliki sejarahnya masing-masing, dilansir dari Profil Budaya dan Bahasa oleh Kemendikbud.
Warga memegang Batu Kilan, yang merupakan dasar bangunan Keraton Pakungwati yang sudah runtuh di Keraton Kesultanan Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat, (14/1). Puncak perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut akan digelar hingga Rabu dini hari. TEMPO/Aditya Herlambang Putra
Keraton Kasepuhan Cirebon
Keraton Pakungwati, atau yang juga dikenal sebagai Dalem Agung Pakungwati merupakan asal mula dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Keraton ini dibangun oleh Pangeran Cakrabuana, putra Raja Pajajaran, pada tahun 1452, hampir bersamaan dengan pembangunan Tajug Pejlagrahan di sebelah timur.
Pada abad ke-16, Sunan Gunung Jati wafat dan digantikan oleh cicitnya yang bernama Pangeran Emas Zaenal Arifin, yang bergelar Panembahan Pakungwati I. Kemudian pada tahun 1529, ia membangun keraton baru di sebelah barat daya keraton lama.
Keraton baru ini juga dinamai Keraton Pakungwati, mengambil nama putri Pangeran Cakrabuana atau buyut sultan yang meninggal pada tahun 1549 ketika ikut memadamkan kobaran api yang membakar Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Ruang pertemuan di bangunan utama Keraton Kanoman, Cirebon, Jawa Barat. Tempo/Francisca Christy Rosana
Keraton Kanoman
Pada sekitar tahun 1510 Saka atau 1588 Masehi, Pengeran Mohamad Badridin atau Pengeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I, mendirikan Keraton Kanoman. Titimangsa atau penanggalan Keraton Kanoman didasarkan pada prasasti yang terdapat pada pintu Pendopo Jinem menuju ruang Prabayaksa, berupa gambar surya sangkala dan chandra sangkala.
Chandra sangkala tersebut menunjukkan angka tahun 1510 Saka yang terdiri dari rupa Matahari yang berarti 1, wayang Darma Kusuma yang berarti 5, bumi yang berarti 1, dan binatang kemangmang yang berarti 0.
Namun, sumber lain menyebutkan bahwa pembangunan Keraton Kanoman bersamaan dengan pelantikan Pangeran Mohamad Badridin menjadi Sultan Kanoman dan bergelar Sultan Anom I, yang terjadi pada tahun 1678-1679 M.
Keraton Kacirebonan. TEMPO/Subekti
Keraton Kasultanan Kacirebonan
Tahun 1808, Pangeran Anom mendirikan Keraton Kasultanan Kacirebonan di atas tanah seluas 46.500 meter persegi. Pembangunan keraton ini dilakukan karena adanya penggantian Sultan Anom IV yang meninggal pada tahun 1802.
Menurut adat, seharusnya Sultan Anom IV digantikan oleh anak laki-laki atau anak tertua, tetapi ia memiliki anak kembar. Pada tahun 1807, Gubernur Jendral Daendels memutuskan bahwa keduanya mendapat gelar sultan dan Pangeran Raja Kanoman ditetapkan sebagai Sultan Kacirebonan hingga akhir hayatnya.
Namun, keturunan Sultan Kacirebonan hanya memiliki gelar Pangeran dan tidak bisa menjadi sultan atau memerintah wilayah. Hanya Pangeran Raja Kanoman saja yang diangkat menjadi pegawai pemerintah kolonial Belanda.
Sedangkan untuk putra Sultan Anom IV yang lain, yaitu Pengeran Abusaleh Imamuddin, Daendels menetapkan dia sebagai Sultan Anom V, dan keturunannya bisa menggunakan gelar Sultan dan bekerja sebagai pegawai pemerintah kolonial Belanda.
Meskipun Inggris mengambil alih kekuasaan Belanda di Pulau Jawa, keputusan ini tidak diubah lagi, sehingga sejak tahun 1997 Keraton Kacirebonan dipimpin oleh Pangeran Raja Abdul Gani Natadiningrat.
Dari ketiga keraton yang ada di Cirebon, masing-masing memiliki sejarah yang unik. Semua itu menjadikan ketiga keraton ini sebagai destinasi wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi.
Tentunya, di balik keindahan dan sejarah yang terkandung di dalamnya, ketiga keraton ini juga memiliki tantangan untuk terus dipelihara dan dijaga keberadaannya. Jangan biarkan warisan ini hilang ditelan zaman, melainkan jadikan sebagai sumber inspirasi dan kebanggaan bagi kita semua.
Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “http://tempo.co/”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.