Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Barat Kusnali menyampaikan penyebab kematian Suparta, terpidana 19 tahun penjara kasus korupsi pengelolaan tata niaga komoditas timah di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk pada tahun 2015–2022. Kusnadi menyampaikan, berdasarkan laporan yang diterima Kanwil Ditjendpas Jawa Barat, Suparta meninggal karena serangan jantung.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Suparta merupakan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Kelas II A Cibinong di Pondok Rajeg, Kota Cibinong, Jawa Barat. Selain harus menjalani pidana penjara 19 tahun penjara, Suparta juga divonis harus membayar ganti rugi Rp 4,57 triliun.
"Informasi yang kami terima dari pihak rumah sakit, yang bersangkutan meninggal saat dalam penanganan di Instalasi Gawat Darurat, karena serangan jantung," kata Kusnali pada saat dihubungi Tempo, Selasa, 29 November 2025.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Kusnali mengatakan, berdasarkan laporan itu, pada saat dibawa ke rumah sakit, Suparta dilaporkan masih hidup. Sebelumnya, Suparta menyampaikan keluhan atas kesehatannya saat masih mendekam di Lapas Cibinong. "Dalam laporan atensi kalapas, dua kali atas permintaan sendiri, Suparta diperiksa di klinik lapas, tapi tidak diketahui penyakitnya," kata Kusnali.
Jenazah direktur utama PT Refined Bangka Tin (RBT) itu, kata Kusnali, sudah diserahterimakan kepada keluarganya saat masih di rumah sakit.
Kejaksaan Agung, melalui Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Harli Siregar, juga membenarkan kematian Suparta. “Benar, atas nama Suparta pada hari Senin tanggal 28 April 2025 sekitar pukul 18.05 WIB di RSUD Cibinong Bogor,” kata Harli saat dikonfirmasi Antara di Jakarta, Senin, 28 April 2025.
Keputusan Kasasi Belum Diambil
Suparta merupakan salah satu terpidana dalam kasus korupsi timah. Direktur PT RBT itu dijatuhi hukuman penjara 8 tahun, denda Rp1 miliar subsider pidana kurungan 6 bulan, serta membayar uang pengganti Rp 4,57 triliun subsider 6 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta.
Pada Februari 2025, Majelis Hakim Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memperberat vonis pidana penjara yang bersangkutan menjadi 19 tahun setelah menerima permintaan banding dari penuntut umum dan Suparta.
Untuk pidana denda, hukuman terhadap Suparta tetap sebesar Rp1 miliar dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, maka akan diganti (subsider) dengan pidana kurungan selama 6 bulan.
Sementara pada pidana tambahan, Majelis Hakim menetapkan uang pengganti yang dibayarkan Suparta tetap sebesar Rp 4,57 triliun.
Tetapi hukuman pengganti apabila Suparta tidak membayarkan uang pengganti tersebut diperberat Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menjadi 10 tahun penjara.
Usai dijatuhi putusan banding, Suparta mengajukan kasasi di Mahkamah Agung. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kapuspenkum Harli. Namun keputusan kasasi belum diambil.
Pilihan Editor: Korban Baru Kekerasan Seksual Eks Rektor Universitas Pancasila