Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Taiwan melaporkan pada Kamis bahwa mereka telah mendeteksi 45 pesawat militer Cina di dekat pulau tersebut. Ini adalah jumlah tertinggi yang tercatat tahun ini.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Lonjakan aktivitas itu menyusul kecaman Taiwan terhadap latihan tembakan langsung Cina yang dilakukan di lepas pantai selatannya. Dilansir dari Al Arabiya, Cina mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Cina telah berulang kali mengancam akan menggunakan kekerasan untuk membawa pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu di bawah kendalinya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing telah menambah pengiriman jet tempur maupun kapal angkatan laut ke dekat Taiwan. Pengiriman militer ini untuk menegaskan kedaulatannya yang tegas ditolak oleh Taipei.
Menurut Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan, antara pukul 06.00 Rabu pagi hingga pukul 06.00 Kamis pagi, 45 pesawat dan 14 kapal perang Cina terlihat di dekat Taiwan. Ini menandai jumlah pesawat Cina tertinggi yang terdeteksi sejak 11 Desember 2025.
Pada Rabu, Taiwan menuduh Cina melakukan latihan tempur yang melibatkan pesawat dan kapal perang. Latihan tempur ini diikuti oleh latihan tembak langsung sekitar 40 mil laut (74 kilometer) dari pantai selatannya. Taipei mengecam tindakan ini sebagai tindakan berbahaya dan melanggar "norma internasional."
Sebagai tanggapan, militer Taiwan mengerahkan pasukannya sendiri untuk memantau, memberi peringatan, dan menanggapi dengan tepat, menurut kementerian pertahanan.
Kementerian luar negeri Beijing menolak berkomentar mengenai aktivitas militer baru-baru ini. Namun, Kementerian Luar Negeri Taiwan mengeluarkan pernyataan pada hari Kamis yang menyerukan Beijing untuk menahan diri dan menghentikan provokasi militer.
Dunia internasional juga diminta memperhatikan keamanan Selat Taiwan dan kawasan tersebut, serta ikut mengutuk tindakan Cina.
Perselisihan antara Cina dan Taiwan bermula pada 1949, ketika pasukan nasionalis Kuomintang pimpinan Chiang Kai-shek melarikan diri ke Taiwan setelah kalah dalam perang saudara di Cina melawan pasukan komunis pimpinan Mao Zedong. Meskipun tidak pernah memerintah Taiwan, Beijing menganggapnya sebagai provinsi yang memisahkan diri dan bersikeras untuk melakukan reunifikasi, dengan kekerasan jika perlu.
Secara historis, Taiwan telah diperintah oleh berbagai negara asing, termasuk Belanda, Spanyol, Cina dari Dinasti Qing, dan Jepang. Taiwan akhirnya memiliki pemerintahan sendiri pada akhir abad ke-20.
Pilihan editor: Trump Jual Gold Card Seharga Rp 82 M, Apa Bedanya dengan Green Card?