Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Iran mengomentari serangan terbaru kelompok Hizbullah dari Lebanon terhadap Israel dengan mengatakan Israel telah kehilangan kekuatannya, dan bahwa keseimbangan strategis di kawasan Timur Tengah telah bergeser melawannya.
Hizbullah meluncurkan ratusan roket dan pesawat nirawak ke Israel pada Minggu pagi, 25 Agustus 2024, sementara militer Israel terlebih dahulu menghujani Lebanon dengan sekitar 100 jet untuk menggagalkan serangan yang diantisipasi. Ekspektasi eskalasi antara kedua belah pihak telah meningkat sejak serangan rudal di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel bulan lalu menewaskan 12 anak kecil dan militer Israel membalas dengan membunuh Fuad Shukr, komandan senior Hizbullah, di Beirut.
“Meskipun mendapat dukungan menyeluruh dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Israel tidak dapat memprediksi waktu dan tempat respons terbatas dan terkendali oleh perlawanan. Israel telah kehilangan kekuatan pencegahannya,” tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanaani di media sosial X, Senin, 26 Agustus 2024.
Kelompok-kelompok yang tergabung dalam Poros Perlawanan, koalisi anti-Amerika Serikat dan anti-Israel yang dipimpin oleh Iran, memuji serangan Hizbullah. Para anggota Poros telah melakukan serangan masing-masing terhadap Israel dengan alasan solidaritas terhadap rakyat Palestina sejak pertempuran antara Israel dan Hamas pecah pada 7 Oktober 2023.
Hamas mengatakan serangan Hizbullah merupakan “respons yang kuat dan terarah” dan menjadi “tamparan di wajah” bagi pemerintah Israel, menurut sebuah pernyataan pada 25 Agustus yang dikutip oleh Al Arabiya.
Sementara kelompok Jihad Islam Palestina (PIJ) mengatakan serangan itu menunjukkan Israel “hanya mengerti bahasa kekerasan dan hanya akan dihentikan oleh perlawanan dan serangan Mujahidin”. Ansar Allah dari Yaman memberi selamat kepada Hizbullah, sekaligus mengatakan respons angkatan bersenjata Yaman terhadap Israel “akan segera datang”.
Kanaani menambahkan Israel “sekarang harus mempertahankan diri di wilayah pendudukannya” dan bahwa “keseimbangan strategis telah mengalami perubahan mendasar” yang merugikan Israel.
“Mitos tentang ketangguhan tentara Israel telah lama menjadi slogan kosong. Tentara teroris Israel telah kehilangan kekuatan ofensifnya yang efektif dan sekarang harus mempertahankan diri terhadap serangan strategis,” ucapnya.
Pemimpin Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah menyatakan serangan kelompok itu telah selesai “sesuai rencana”. Dengan tiga kematian yang dikonfirmasi di Lebanon dan satu di Israel, kedua belah pihak mengindikasikan mereka ingin menghindari eskalasi lebih lanjut untuk saat ini. Tetapi, keduanya memperingatkan bahwa mungkin akan ada lebih banyak serangan yang akan datang.
REUTERS
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ikuti berita terkini dari Tempo.co di Google News, klik di sini