Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Ikuti Jepang, Perekonomian Inggris Alami Resesi

Inggris resmi masuk ke jurang resesi setelah pertumbuhan ekonominya mencatat pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut

15 Februari 2024 | 20.36 WIB

Warga berjalan melewati kincir angin Wimbledon yang dihias dengan bendera Jack Union selama peringatan ke-75 Victory in Europe, kemenangan sekutu di Perang Dunia II, di London, Inggris, 8 Mei 2020.[REUTERS]
Perbesar
Warga berjalan melewati kincir angin Wimbledon yang dihias dengan bendera Jack Union selama peringatan ke-75 Victory in Europe, kemenangan sekutu di Perang Dunia II, di London, Inggris, 8 Mei 2020.[REUTERS]

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Inggris pada Kamis 15 Februari 2024 resmi masuk ke jurang resesi setelah pertumbuhan ekonominya mencatat pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut. Laporan ini menyusul kabar Jepang yang terlebih dahulu mengalami resesi ekonomi.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris kontraksi 0,3% pada kuartal IV-2023. Sementara, kuartal III-2023 ekonomi Inggris juga turun 0,1%. Resesi teknis umumnya didefinisikan sebagai penurunan PDB secara berturut-turut.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Pertumbuhan ekonomi Inggris hanya mencapai 0,1% sepanjang 2023. Kecuali tahun-tahun pandemi Covid-19, angka pertumbuhan ekonomi Inggris secara tahunan ini terlemah sejak 2009. Saat itu, Inggris dan negara-negara besar sedang terguncang akibat krisis keuangan global.

"Tidak masalah apakah ini resesi teknis atau tidak. Tidak ada kejutan di sini dan saya tidak senang mengatakan bahwa tidak ada kejutan bahwa kita berada di dalamnya. Kita mempunyai ekonomi dengan pertumbuhan rendah atau tidak ada pertumbuhan ekonomi," kata Lord Rose, pemimpin supermarket terbesar di Inggris, ASDA.

Perekonomian Inggris mengalami stagnasi selama hampir dua tahun. Bank sentral Inggris, Bank of England, memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan sedikit meningkat pada 2024.

Namun, pertumbuhan yang lambat pada tahun ini masih akan menjadi latar belakang yang sulit bagi upaya Perdana Menteri Rishi Sunak untuk menarik pemilih menjelang pemilu pada tahun ini.

“Bisnis sudah tidak mempunyai ilusi mengenai kesulitan yang mereka hadapi, dan berita ini tidak diragukan lagi akan menjadi peringatan bagi pemerintah,” kata Alex Veitch, direktur kebijakan dan wawasan di Kamar Dagang Inggris.

“Pemerintah harus menggunakan anggarannya dalam waktu kurang dari tiga minggu untuk menetapkan jalur yang jelas bagi pertumbuhan perusahaan dan perekonomian Inggris.”

Menteri Keuangan Inggris Jeremy Hunt mengatakan ada “tanda-tanda perekonomian Inggris mulai membaik” dan “kita harus tetap berpegang pada rencana – memotong pajak atas pekerjaan dan bisnis untuk membangun perekonomian yang lebih kuat”.

Laporan-laporan media mengatakan Hunt sedang berusaha memotong miliaran poundsterling dari rencana belanja publik untuk mendanai pemotongan pajak pra-pemilu dalam anggarannya pada 6 Maret.

“Pada tahun lalu, perdana menteri berjanji untuk membuat perekonomian tumbuh tetapi data hari ini, yang menunjukkan resesi teknis ringan, menunjukkan kurangnya kemajuan,” kata Pranesh Narayanan, peneliti di Institute for Public Policy Research.

Dia menambahkan bahwa rendahnya investasi yang kronis pada rumah sakit, sekolah dan infrastruktur “telah menciptakan keruntuhan sektor publik dan kehancuran perekonomian”, dan menyebut angka-angka tersebut sebagai “sebuah peringatan” yang seharusnya mendorong pemerintah “untuk memprioritaskan investasi publik daripada pemotongan pajak yang tidak bertanggung jawab.”

Pemerintah dapat menggunakan pertumbuhan PDB sebagai bukti bahwa telah melakukan tugasnya dengan baik dalam mengelola perekonomian. Namun jika PDB turun, oposisi bisa mengatakan pemerintah menjalankan kebijakan dengan buruk.

Jika PDB terus meningkat, masyarakat akan membayar pajak lebih banyak karena mereka memperoleh penghasilan dan membelanjakan lebih banyak. Hal ini berarti lebih banyak dana yang dapat dibelanjakan pemerintah untuk layanan publik, seperti sekolah, polisi, dan rumah sakit.

REUTERS | AL JAZEERA

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus