Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Siapa yang tidak kenal dengan Louis Braille, ialah penemu kode braille yang lahir pada tahun 1809 di Coupvray, Prancis. Selain merayakan hari kelahirannya, tepat 4 Januari hari ini sekaligus diperingati sebagai Hari Braille Sedunia.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Melansir dari www.nbp.org kode dengan namanya tersebut telah ditetapkan pada 1824 dan sekarang dapat digunakan hampir di seluruh negara di dunia yang disesuaikan dengan hampir setiap bahasa yang diketahui mulai dari Albania sampai Zulu. Kemudian dunia merayakan Bicentennial Braille di tahun 2009.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Inspirasi Penemuan Huruf Braille
Dalam penemuannya ini, Louis Braille memperoleh inspirasi setelah melihat Charles Barbier, seorang pensiunan perwira artileri di pasukan Napoleon. Ketika itu Barbier mendemonstrasikan sistem pencatatan yang ditemukannya dari titik timbul untuk mewakili suara yang memungkinkan catatan dilewatkan di antara barisan tanpa menyalakan lampu. Sebab sebagian besar tentara kala itu mengidap buta huruf. Namun para tentara tidak terkesan akan hal itu, kemudian Barbier membawa sistemnya ke sekolah untuk orang buta.
Louis langsung sadar akan keunggulan dari pengunaan titik timbul untuk mewakili huruf tersebut. Kemudian setelahnya ia mengembangkan ide Barbier itu dalam kurun waktu selama tiga tahun. Dulu hampir 16 tahun setiap hari dihabiskannya guna menyodok kertas demi mencoba menemukan cara yang lebih efisien untuk mewakili huruf dan angka cetak secara taktis.
Pada 1825 kala itu, ia yang merupakan seorang mahasiswa di Institut Nasional Pemuda Tunanetra di Paris bersama teman-teman tunanetranya membaca dengan menjiplak huruf-huruf cetak yang terangkat dengan jari mereka.
Meski sangat lambat, namun beberapa diantara siswa tunanetra itu menguasai teknik tersebut. Saat menulis dibutuhkan hafalan terhadap bentuk-bentuk huruf, setelahnya dicoba untuk mengaplikasikannya di atas kertas. Hal ini tentu dilakukan tanpa hasil tulisannya bisa dilihat ataupun dibaca. Selama masa hidup Louis telah sukses menjadi seorang guru, musisi, peneliti, dan penemu. Louis Braille meninggal pada 6 Januari 1852 diumur 43 tahun ini.
Ketika berusia tiga tahun, mata Braille terluka yang disebabkan oleh benda tajam. Saat itu ia tengah bermain di toko ayahnya. Walaupun tersedia perawatan terbaik, kala itu infeksi yang terjadi langsung menyebar ke mata yang lainnya sehingga mengakibatkan ia buta total. Dilansir dari braillebug.org Louis menjadi buta secara tidak sengaja. Ketika itu, jauh di dalam bengkel baju zirah ayahnya, ia mencoba menjadi layaknya sang ayah.
Namun hal tersebut menjadi sangat tidak benar. Di mana penusuk yang digunakan untuk membuat lubang di kulit, diambil oleh Louis kecil yang kemudian benda tajam tersebut tergelincir melukai matanya.
Ini mengakibatkan Louis memerlukan cara baru untuk belajar. Selama dua tahun setelahnya ia tetap di sekolah lamanya, namun Louis yang hanya bisa mendengarkan tidak dapat belajar seluruh pelajaran. Semuanya tampak saat anak usia 10 tahun itu memperoleh beasiswa ke Royal Institution for Blind Youth di Paris. Hanya saja perpustakaan cuma mempunyai 14 buku besar dengan huruf timbul. Itupun sangat sulit untuk dibaca, sehingga tidak ada cara bagi Louis untuk menulis.
Charles Barbier yang menyambangi sekolah itu pada 1821, berbagi penemuannya yang disebut penulisan malam. Ini merupakan sebuah kode 12 titik timbul bagi para tentara yang memungkinkan untuk berbagi informasi rahasia di medan perang dalam keadaan gelap. Meski kode tersebut sulit dipelajari oleh para prajurit, namun tidak bagi Louis umur 12 tahun. Kemudian ia mengurangi jumlah titik di setiap karakter, dari yang awalnya ada 12 titik Barbier menjadi hanya 6 titik. Hal ini memungkinkan ujung jari bisa sekaligus menyentuh seluruh titik yang membuat satu karakter.
Sebagian besar peningkatan sistem yang terus dilakukan Louis, selesai ketika ia berumur 15 tahun. Sehingga pada tahun 1829, buku braille pertama kali diterbitkan olehnya, yang menjelaskan metode membaca dan menulisnya. Lalu pada 1837, simbol untuk matematika dan musik ditambahkan.
Meski perlu waktu hingga bertahun-tahun lamanya bagi para guru dan direktur di Royal Institution untuk menerima ini, namun para siswa menyukai kode baru Louis itu. Braille tidak diajarkan di Royal Institution bahkan saat Louis mengajar di sekolah itu, namun setelah ia mati.
Buku Braille mempunyai dua sisi halaman sehingga dapat menghemat banyak ruang. Penyandang tunanetra yang berkeliaran di ruang publik dapat terbantu oleh rambu braille. Dapat terhubung ke ponsel pintar atau komputer, perangkat terkomputerisasi dengan perubahan tampilan braille bisa disegarkan. Hal terpenting ialah penyandang tunanetra bisa berkomunikasi secara mandiri.
Saat sekelompok pria Inggris yang saat ini dikenal sebagai Royal National Institute for the Blind mengambil tindakan, di tahun 1868 braille mulai menyebar ke seluruh dunia. Hingga saat ini, hampir semua negara di dunia memakai huruf braille bagi tuna netra.
PUSPITA AMANDA SARI