Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Membunuh perdamaian

Tiga korban, sebuah upaya peledakan yang gagal, lalu apa lagi? upaya-upaya menggagalkan perdamaian plo-israel.

30 Oktober 1993 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

UPAYA menggagalkan perdamaian PLO-Israel tampaknya terus berjalan. Setelah percobaan peledakan pesawat Yasser Arafat, Assad Saftawi ditembak dua orang tak dikenal, ketika menjemput anaknya selepas sekolah di Rimal, Kota Gaza, Kamis pekan lalu. Lima belas ribu pelayat Saftawi, seorang pemimpin Fatah, sehari kemudian, menuduh kelompok anti Arafat berada di balik pembunuhan itu. Sami Assaya, wakil kelompok Fatah di Jalur Gaza, menyalahkan pihak keamanan Israel yang teledor. Ia malah menuduh para kolaborator Israel diam-diam merencanakan aksi pembunuhan itu. Yasser Arafat yang tengah berada di Paris untuk mencari dukungan dana dari Eropa, dalam keterangan persnya menyatakan, ''Konspirasi ini bukan dilakukan oleh pihak dunia Arab.''Ia kemudian melambai-lambaikan telegram berisi bantahan kelompok muslim Hamas atas peristiwa pembunuhan Saftawi. ''Para pembunuh itu adalah vampir tengah malam, yang menginginkan perpecahan rakyat Palestina,'' katanya tanpa menyebut siapa vampir itu. Sementara itu, Farouk Kaddoumi, bekas menteri luar negeri PLO yang menentang Perjanjian Damai PLO-Israel, membandingkan peristiwa pembunuhan Saftawi dengan Kris Hani, tokoh komunis kulit hitam Afrika Selatan, beberapa waktu lalu. ''Terbukti bahwa yang membunuh Hani adalah dua orang kulit putih,'' ujarnya. Dengan membandingkan itu, secara tak langsung Kaddoumi menduga yang membunuh Saftawi adalah Israel. Perdana Menteri Yitzhak Rabin, yang tengah berkunjung ke kamp-kamp tentara Israel di Gaza, menyatakan kekhawatirannya atas kejadian itu. Seperti diketahui, ada tuduhan dari kelompok anti-perdamaian bahwa Israel sengaja mengeruhkan suasana di Jalur Gaza dan Yerikho, hingga ada alasan penarikan tentara Israel Desember nanti dibatalkan. Yang pasti, Saftawi, yang sehari-hari kepala sekolah ini, adalah korban ketiga di pihak yang pro perdamaian sejak perdamaian PLO-Israel diteken di Washington, bulan lalu. Seminggu setelah perjanjian, Mohammad Abu Shaban, pengacara dan aktivis hak asasi manusia di Gaza, mati terbunuh. Beberapa hari kemudian, Maher Ikhail, pembantu Shaban, juga mati ditembak di luar salon rambut miliknya. DP

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
>
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum