SEHARI setelah pelantikan Clinton, yang dihadiri ribuan pendukungnya, Gedung Putih kembali kebanjiran ribuan orang. Namun kali ini bukan pujian dan sorak gembira yang dilontarkan, melainkan hujan protes dan keluh kesah. ''Kami sekadar melakukan show of force,'' kata Martha Donovan, salah seorang dari pengunjuk rasa yang, menurut polisi, berjumlah 75 ribu itu. Inilah kelompok anti-aborsi yang merasa terpukul dengan terpilihnya Clinton sebagai presiden. Maklum, sejak masa kampanye Clinton memang berjanji akan mencabut berbagai larangan pemerintah yang menyulitkan mereka yang ingin menggugurkan kandungannya. Dan janji kampanye itu memang ditepatinya di hari pertamanya di Gedung Putih. Sejumlah Keputusan Presiden yang mencabut peraturan anti-aborsi ditandatanganinya. Tapi tampaknya tak semua janji pemilu akan ditepati Clinton. Yang jelas sudah dipungkirinya adalah soal pengungsi Haiti. Selama kampanye Clinton mengkritik keras kebijakan Bush mengembalikan pengungsi Haiti yang mendarat di AS dengan berbagai jenis perahu. ''Kita berkewajiban menampung mereka sementara sampai demokrasi kembali tegak di Haiti,'' katanya ketika berkampanye. Pekan lalu sikapnya berubah. ''Sementara ini kebijakan Bush soal Haiti diteruskan,'' kata Clinton ketika mengirim sejumlah kapal perang AL AS untuk mencegat dan memulangkan pengungsi Haiti di tengah laut. Soalnya, ratusan ribu rakyat negara jiran AS itu sudah menyiapkan diri mengungsi ke Paman Sam dengan harapan pemerintahan Clinton akan menampung mereka. Keruan saja kelompok hak asasi manusia segera angkat protes. Protes juga muncul ketika Clinton mengajukan calon Jaksa Agungnya, Zoe Baird, untuk dikukuhkan Senat. Semula penunjukan Baird dielu-elukan sebagai penepatan janji Clinton untuk menempatkan lebih banyak wanita dan suku minoritas di kabinetnya. Zoe Baird dikenal sebagai penasihat hukum wanita yang andal, yang gajinya terakhir sebagai pengacara konglomerat mencapai lebih dari semiliar rupiah setahun. Hanya saja sebelum pengukuhannya berlangsung harian New York Times memberitakan bahwa calon jaksa agung ini pernah melanggar hukum. Ia menyewa imigran gelap sebagai pengasuh anaknya. Maka timbul pertanyaan: Bagaimana Baird dapat memegang jabatan yang juga membawahkan departemen imigrasi jika ia sendiri pernah melanggar peraturan keimigrasian? Setelah dua hari diinterogasi Senat, Baird akhirnya mengajukan surat pengunduran diri kepada Clinton. ''Saya tetap beranggapan Baird adalah seorang yang sangat kompeten di bidangnya,'' kata Clinton, yang toh menerima pengunduran diri itu. Presiden ke-42 AS ini tampaknya memang tak punya pilihan lain. Masalahnya, selama kampanye dan juga dalam pidato pengukuhannya sebagai presiden, Clinton menjanjikan pemerintahan baru yang lebih akrab dengan rakyatnya. Mandat utama yang diperolehnya ketika memenangkan pemilu adalah mengubah pemerintahan lama yang dianggap terlalu mementingkan kelompoknya sendiri dan kehilangan hubungan dengan rakyat banyak. Mandat lain yang sekarang agak sulit dilaksanakan adalah soal memfokuskan perhatian pada ekonomi ''setajam sinar laser''. Sebab persoalan luar negeri yang ditinggalkan Bush malah semakin hangat. Misalnya, tiga jam setelah pengukuhannya menjadi presiden, radar rudal anti-pesawat Irak, menurut laporan Pentagon, telah kembali menyemprot patroli AS dan koalisinya di wilayah ''no fly zone''. Patroli AS pun, sesuai dengan kebijakan selama ini, langsung mengebom sarang rudal dan radarnya itu. Di belahan bumi lainnya dentuman senjata juga terpaksa menarik perhatian pemerintahan Clinton. Kesepakatan Jenewa antara pihak yang berseteru di Bosnia ternyata tak membungkam letupan perangkat perang di jantung Eropa itu. Pertempuran malah kembali berkecamuk antara Serbia dan Kroasia, yang sebenarnya sudah mulai menyurut belakangan ini. Dan ini berarti tekanan agar AS melakukan sesuatu semakin keras. Apalagi Clinton selama kampanye menjanjikan perlakuan yang lebih keras untuk memastikan Serbia menghentikan agresivitasnya. ''Selain memberlakukan no fly zone, kami juga memikirkan sejumlah tindakan lain yang kami anggap efektif,'' kata Warren Christopher, Menteri Luar Negeri kabinet yang baru. Yang agak memberi harapan justru di Somalia. Beberapa jam sebelum pelantikan Clinton, lebih dari seribu marinir AS tiba kembali di pangkalan mereka sejak bertugas di Somalia. ''Soalnya, sasaran kami tercapai lebih cepat dari rencana dan pasukan yang diperlukan tak sebanyak perkiraan semula,'' kata Kolonel Fred Peck, juru bicara pasukan AS di operasi ''Pemulihan Harapan''. Toh bukan berarti Clinton boleh melupakan negeri di pantai timur Afrika itu. Sebab masih ada lebih dari 24 ribu anak buahnya berada di sana dan kepulangan mereka tergantung berapa cepat PBB dapat menggantikan pasukan AS. Dengan beban seperti itu memang tak mudah bagi Clinton memfokuskan perhatiannya setajam sinar laser pada masalah ekonomi. Tapi tak menepati janji kampanye memang bukan hal luar biasa dalam sejarah politik Amerika. Bambang Harymurti (Washington DC)
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini