Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Berita Tempo Plus

Peta yang Memicu Sengketa Laut Cina Selatan

Situasi Laut Cina Selatan kembali memanas setelah Cina menerbitkan peta baru. Filipina buru-buru membuat peta tandingan.

1 Oktober 2023 | 00.00 WIB

Kapal Penjaga Pantai Filipina mengambil foto kapal Penjaga Pantai Tiongkok, di Laut Cina Selatan, 8 September 2023. REUTERS/Jay Ereno
Perbesar
Kapal Penjaga Pantai Filipina mengambil foto kapal Penjaga Pantai Tiongkok, di Laut Cina Selatan, 8 September 2023. REUTERS/Jay Ereno

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ringkasan Berita

  • Cina menerbitkan peta baru Laut Cina Selatan berdasarkan 10 garis putus-putus.

  • Peta itu didasari klaim wilayah tangkapan nelayan tradisional mereka.

  • Filipina menyiapkan peta baru untuk menandinginya.

KOMISI Zona Kelautan Senat Filipina menggelar sidang maraton untuk merancang peta baru yang akan memasukkan kawasannya di Laut Filipina Barat, bagian dari Laut Cina Selatan. “Akan ada lima rapat dengar pendapat karena kami mencoba merancang peta baru kita. Jadi ini sebagai respons terhadap 10 garis putus-putus,” kata Francis Tolentino, senator yang mengusulkan Undang-Undang Zona Laut Filipina, yang menetapkan zona ekonomi eksklusif (ZEE), landas kontinen, dan bahkan fitur-fitur bawah laut milik negeri itu, pada Kamis, 14 September lalu, seperti dikutip Philstar.com.

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Nabiila Azzahra berkontribusi dalam penulisan artikel ini. Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Adu Peta Laut Cina Selatan"

Iwan Kurniawan

Sarjana Filsafat dari Universitas Gadjah Mada (1998) dan Master Ilmu Komunikasi dari Universitas Paramadina (2020. Bergabung di Tempo sejak 2001. Meliput berbagai topik, termasuk politik, sains, seni, gaya hidup, dan isu internasional.

Di ranah sastra dia menjadi kurator sastra di Koran Tempo, co-founder Yayasan Mutimedia Sastra, turut menggagas Festival Sastra Bengkulu, dan kurator sejumlah buku kumpulan puisi. Puisi dan cerita pendeknya tersebar di sejumlah media dan antologi sastra.

Dia menulis buku Semiologi Roland Bhartes (2001), Isu-isu Internasional Dewasa Ini: Dari Perang, Hak Asasi Manusia, hingga Pemanasan Global (2008), dan Empat Menyemai Gambut: Praktik-praktik Revitalisasi Ekonomi di Desa Peduli Gambut (2020).

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus