Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ringkasan Berita
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia mencoba memperluas pemaknaan “bebas aktif”, lebih berfokus pada pragmatisme ekonomi-politik dan keamanan regional.
Pada era Bung Hatta, istilah “Mendayung Antara Dua Karang” kini tampaknya sudah berubah menjadi “Berpijak di Atas Dua Karang”.
Indonesia juga harus siap dengan benturan konflik kepentingan dengan kedua blok di level regional ataupun internasional, misalnya konflik di wilayah Laut Cina Selatan.
INDONESIA dikenal dengan prinsip politik luar negeri “bebas aktif” yang menjadi fondasi diplomasi dan interaksi globalnya. Prinsip ini pertama kali diperkenalkan oleh Mohammad Hatta pada 1948 dalam pidatonya yang berjudul “Mendayung Antara Dua Karang” sebagai respons terhadap blok-blok besar dalam Perang Dingin: Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur di bawah Uni Soviet.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Redaksi menerima tulisan opini dari luar dengan syarat: panjang sekitar 5.000 karakter (termasuk spasi) atau 600 kata dan tidak sedang dikirim ke media lain. Sumber rujukan disebutkan lengkap pada tubuh tulisan. Kirim tulisan ke e-mail: [email protected] disertai dengan foto profil, nomor kontak, dan CV ringkas.