Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - The Economist Intelligence Unit (EIU), lembaga riset dan analisis yang berpusat di London, Inggris, mengeluarkan hasil risetnya terhadap kondisi demokrasi negara-negara di dunia. Dalam hasil penelitian tersebut, indeks persepsi demokrasi Indonesia anjlok tiga peringkat menjadi posisi ke-59 untuk tahun 2024.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Indonesia hanya mendapatkan skor 6,44 untuk kondisi demokrasi. Angka tersebut didapatkan lewat beberapa komponen penilaian seperti proses pemilihan dan pluralisme, fungsi pemerintahan, partisipasi politik, budaya politik, serta kebebasan sipil.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Secara khusus, EIU menyoroti jalannya demokrasi electoral di Indonesia pada tahun 2024 lalu. Hal yang menjadi sorotan utama EIU adalah terpilihnya Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden dan Wakil Presiden.
“Di Indonesia, pemilihan presiden mengangkat Prabowo Subianto, seorang mantan jenderal militer dengan masa lalu yang kontroversial, yang mendapat dukungan diam-diam dari mantan presiden Joko Widodo,” tulis EIU dalam dokumen hasil riset mereka yang diterima Tempo pada Rabu, 5 Maret 2025.
EIU menilai, manuver politik Jokowi dalam mendukung pencalonan Prabowo sekaligus menitipkan anak kandungnya, Gibran, sebagai wakil presiden telah menimbulkan kekhawatiran bagi iklim demokrasi. Potensi terjadinya sentralisasi kekuasaan dan hilangnya penyeimbang dalam demokrasi menjadi dua hal yang jadi fokus perhatian.
“Mengonfirmasi kecurigaan bahwa presiden masa lalu dan sekarang berkolusi untuk saling menguntungkan,” ujar EIU kembali.
Dalam catatan Tempo, Joko Widodo secara terang-terangan memberikan restunya kepada Gibran untuk menjadi cawapres pendamping Prabowo. Meskipun demikian, dia mengklaim tak ikut campur dalam pemilihan capres dan cawapres.
Jokowi menyatakan, dipilihnya Gibran sebagai cawapres merupakan kewenangan partai politik. “Ya orang tua tuh tugasnya mendoakan dan merestui, keputusannya semuanya di dia (Gibran),” kata Jokowi saat menghadiri apel Hari Santri di Surabaya, pada Ahad, 22 Oktober 2023.
Jokowi memperkuat sinyal dukungannya kepada Prabowo Subianto, sebagai capres 2024 saat menghadiri acara ulang tahun Partai Perindo, Senin, 7 Oktober 2022. Jokowi bernostalgia soal kemenangannya di pilpres 2014 dan 2019 atas Prabowo. Namun, Jokowi menyebut pilpres 2024 akan menjadi jatah kemenangan Prabowo.
"Mohon maaf Pak Prabowo. Kelihatannya setelah ini jatahnya Pak Prabowo," kata Jokowi diikuti tepuk tangan.
PIlihan Editor: Riset EIU: Indeks Demokrasi Indonesia Masuk Kategori Flawed Democracy