Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Politik

Suara Ibu Indonesia: Tindak Kekerasan Aparat ke Pendemo Tolak RUU TNI Bukti Pemerintah Antidemokrasi

Suara Ibu Indonesia mengatakan aksi represif terhadap demonstran penolak RUU TNI menandakan pemerintah antidemokrasi.

28 Maret 2025 | 19.17 WIB

Aksi demonstrasi Gerakan Suara Ibu Indonesia sebagai dukungan bagi perjuangan mahasiswa di kawasan Sarinah, Jakarta, 28 Maret 2025. Tempo/Martin Yogi Pardamean
Perbesar
Aksi demonstrasi Gerakan Suara Ibu Indonesia sebagai dukungan bagi perjuangan mahasiswa di kawasan Sarinah, Jakarta, 28 Maret 2025. Tempo/Martin Yogi Pardamean

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Barisan perempuan yang tergabung dalam Suara Ibu Indonesia mengecam tindakan kekerasan aparat terhadap massa aksi penolak pengesahan RUU TNI. Koordinator aksi Ririn Sefsani menyatakan, bahwa tindakan represif terhadap aksi demonstrasi itu menunjukkan pemerintah antidemokrasi.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Tindakan kekerasan itu bukti nyata bahwa rezim ini antidemokrasi," katanya ditemui saat menggelar aksi di Sarinah, Jakarta Pusat pada Jumat, 28 Maret 2025.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mencatat dalam aksi menolak RUU TNI mengakibatkan setidaknya puluhan orang mengalami intimidasi, kekerasan, penyiksaan hingga penangkapan sewenang-wenang di berbagai kota seperti Jakarta, Malang, Surabaya, Bandung, Bekasi, Karawang maupun daerah lain seperti Kupang, dan Medan. Sementara itu, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya mendampingi 25 orang yang mengalami penangkapan sewenang-wenang oleh aparat.

Ririn Sefsani merupakan bagian dari gerakan Suara Ibu Peduli di zaman orde baru. Saat itu dia masih menjadi mahasiswa, tapi kerap ikut turun ke jalan bersama kelompok perempuan dan ibu-ibu yang lain.

Tindakan kekerasan aparat dalam menyikapi penolakan UU TNI saat ini mengingatkannya saat melawan rezim pemerintahan Soeharto. "Kami yang masih hidup tidak ingin sejarah kelam orde baru kembali lagi. Karena itu kami melawan," ujarnya.

Dia berujar bahwa aparat yang represif kepada massa aksi harus ditindak. Menurut dia, sikap itu tidak menghargai aspirasi publik. "Aparat seharusnya menjaga untuk aman, bukan justru melakukan represi," katanya.

Dia mengatakan tidak rela bila masa depan anak penerus bangsa diambil oleh keserakahan elite pejabat. "Kami tidak rela anak-anak kami hidup di Indonesia yang kehilangan kemanusiaan, keadilan, dan kemerdekaan bersama," ucapnya.

Ririn menyatakan, bahwa ibu-ibu di seluruh Indonesia tidak akan melarang anak-anak dan mahasiswa untuk turun ke jalan memperjuangkan masa depan. Suara Ibu Indonesia bakal mendampingi perjuangan itu untuk melawan kekuasaan yang korup.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus