Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Jurnalis senior Najwa Shihab membantah mendapatkan tawaran untuk mengisi posisi Kantor Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO) menggantikan Hasan Nasbi.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Pilihan editor: Setelah Revisi UU TNI: Tentara Masuk Kampus
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Tidak. Informasi itu tidak betul. Saya jurnalis dan akan terus fokus menguatkan media saya, Narasi,” kata Najwa saat dikonfirmasi Tempo pada Jumat, 4 April 2025.
Nama Najwa Shihab disebut muncul menjadi opsi kepala PCO setelah Hasan Nasbi dievaluasi Presiden Prabowo karena blunder atas pernyataan teror kepala babi ke kantor Tempo. Menurut orang dekat Prabowo, Najwa menjadi pertimbangan orang di lingkaran kepala negara untuk menjadi kepala PCO karena dianggap kompeten dan sosoknya sebagai jurnalis senior.
Selain disebut bakal mengisi kepala PCO, Najwa juga menjadi perbincangan warganet di media sosial bakal bergabung pemerintahan Prabowo. Ia disebut akan menggantikan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid. Nana, panggilan akrab Najwa, juga telah membantah rumor tersebut.
Tempo berupaya mengonfirmasi ihwal kabar Najwa menjadi opsi kepala PCO ke Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Namun, Prasetyo belum merespons pesan konfirmasi yang dikirim ke nomor WhatsApp-nya.
Nana dikenal luas sebagai pembawa acara tetap “Mata Najwa” di Metro TV. Melalui acara tersebut nama Najwa kian dikenal masyarakat berkat ciri khasnya yang tajam dan lugas ketika berbincang dengan para tokoh.
Sukses di Mata Najwa, Nana berhenti dari Metro TV pada 2017. Ia bersama kedua temannya membuat sebuah perusahaan di bidang digital content dan nama perusahaan itu yakni PT Narasi Citra Sahwahita atau lebih dikenal dengan sebutan Narasi TV.
Kabar Nana bakal masuk ke pemerintahan Prabowo tersebut menyeruak setelah Kepala PCO Hasan Nasbi dikecam karena tanggapannya terhadap teror kepala babi yang dialami Tempo pada 19 Maret 2025.
Berawal ketika Tempo mengalami sederet teror pekan lalu. Teror terdiri dari kiriman paket kepala babi tanpa telinga, bingkisan berisi enam tikus mati dengan kepala terpotong, hingga kejahatan digital berupa doksing terhadap Francisca Christy Rosana, jurnalis desk politik dan salah satu host siniar Bocor Alus.
Alih-alih mengecam teror, Kepala Kantor Kepresidenan Hasan Nasbi justru memberikan pernyataan yang menuai kontroversi. Ia menyarankan agar kepala babi tersebut dimasak.
“Sudah dimasak saja,” ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Maret 2025.
Pernyataan tersebut didasarkan pada respons Cica di media sosial X, yang dianggap Hasan sebagai lelucon. Ia berpendapat bahwa jika korban sendiri tidak merasa terancam, maka insiden ini sebaiknya tidak dibesar-besarkan.
“Saya lihat medsos Cica. Dia minta dikirim daging babi. Artinya dia tidak terancam. Dia bisa bercanda. Kirimin daging babi dong,” kata Hasan.
Hasan juga mempertanyakan apakah kepala babi yang dikirim benar-benar merupakan ancaman atau hanya sekadar lelucon. “Apakah itu beneran seperti itu? Atau cuma jokes? Karena mereka menanggapinya dengan jokes,” ujar Hasan Nasbi.
Belakangan, pendiri Partai Gerindra Rahmat Harahap menyarankan Presiden Prabowo Subianto untuk merombak Kepala PCO Hasan Nasbi setelah blunder.
Menurut Rahmat, apa yang disampaikan Kepala PCO ihwal teror kepala babi ke kantor media keliru. Ia mengatakan semestinya Kepala PCO bersikap humanis dan empati atas ancaman atau intimidasi kepada pers karena mewakili wajah Presiden RI.
“Saya menyarankan agar kepala PCO dirombak dan diisi sosok yang memiliki empati dan kompeten karena mewakili Presiden untuk berkomunikasi ke publik. Kepala PCO seharusnya menjadi sahabat bagi semua insan pers,” kata Rahmat kepada Tempo, Rabu, 2 Maret 2025.
Presiden Prabowo Subianto telah meminta anak buahnya memperbaiki komunikasi publik dan media. Dia mewanti-wanti jangan sampai rakyat mendapatkan opini dan narasi yang tidak benar.
Hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono usai bertemu dengan Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin, 24 Maret 2025.
“Presiden meminta untuk memperbaiki komunikasi. Komunikasi harus disampaikan. Jangan sampai rakyat digiring oleh opini-opini dan narasi-narasi yang enggak benar gitu loh," kata politikus Gerindra ini di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta Pusat, Senin, 24 Maret 2025.
Namun, Sudaryono membantah permintaan Prabowo memperbaiki komunikasi didasari sejumlah pejabat yang blunder ketika menanggapi suatu kasus atau menjelaskan kebijakan pemerintah. Sudaryono justru mengklaim, pemerintah banyak melakukan sesuatu untuk kepentingan rakyat.
Hendrik Yaputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini.