Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ringkasan Berita
Pamor Egianus Kogeya meroket seusai pembantaian 16 pekerja PT Istaka Karya.
Egianus Kogeya mulai menggeser prinsip pertempuran dan tak membunuh sembarang orang.
Ada anak-anak yang bergabung dengan kelompok Egianus Kogeya.
TUJUH hari tujuh malam, William menyusuri hutan belantara Papua untuk menemui Egianus Kogeya. Bersama lima rekannya, pegiat hak asasi manusia itu berjalan kaki dari Danau Habema, Kabupaten Jayawijaya, menuju Nduga, wilayah yang dikuasai Egianus. Menelusuri pegunungan, yang dikepung pohon menjulang, William berkali-kali kesulitan bernapas saat malam tiba.
“Kami harus tidur dekat api unggun supaya badan tetap hangat,” kata William menceritakan perjalanan empat tahun lalu itu kepada Tempo, Kamis, 16 Februari lalu. Ia meminta namanya disamarkan untuk menghindari pemeriksaan aparat di tengah penyanderaan pilot Susi Air, Phillip Mark Mehrtens, oleh kelompok Egianus Kogeya.
Mendekati markas Egianus, rombongan diperiksa oleh anak buah Panglima Komando Daerah Pertahanan III Ndugama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat itu. William lantas tinggal beberapa pekan di sana. Ia memberikan pelatihan tentang hak asasi manusia kepada Egianus dan kelompoknya sekaligus melatih cara menggunakan kamera.
Saat itu pamor kelompok Egianus Kogeya belum lama tenar. Pada akhir 2018, gerombolan itu menyekap dan membantai para pekerja PT Istaka Karya di Gunung Tabo, Nduga. Sebanyak 16 orang tewas. Enam bulan sebelumnya, Egianus berulah dengan menembaki pesawat di Kenyam, ibu kota Nduga, serta menyandera guru dan tenaga kesehatan di Mapenduma.
Baca: Operasi Militer Jilid Dua di Nduga
Egianus menata Komando Daerah Pertahanan III Ndugama yang dipimpinnya dengan cukup rapi. Dia membuat sejumlah aturan main yang ketat. Personel yang baru masuk tak boleh langsung memanggul senjata. Mereka berlatih dulu dan kadang diikuti ke mana pun pergi. “Setelah ada rasa percaya, mereka baru dikasih senapan,” ujar William.
Menurut dia, kelompok Egianus pantang bercumbu dengan perempuan sebelum bertempur. Di medan perang, mereka juga dilarang meminta uang atau menjarah barang. Egianus dan pengikutnya meyakini prajurit yang melanggar aturan itu akan segera kehilangan nyawa.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo