KALI ini Petrus Setyadi Laksono benar-benar ?knocked out?. Serangan bertubi-tubi penyakit diabetes, jantung, dan ginjal yang menghajar tubuhnya membuat mantan petinju berusia 69 tahun ini tutup mata untuk selamanya, Senin malam pekan lalu.
Sosok Setyadi lekat dengan perkembangan dunia tinju Indonesia. Hingga meninggalnya, bapak tiga anak ini masih menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Manajer Tinju Indonesia, sebuah organisasi yang ia bidani kelahirannya pada 1979. Pada tahun yang sama, anak keempat dari enam bersaudara ini menerbitkan majalah Tinju Indonesia.
Liem Bwan Sing?nama asli Setyadi?jatuh cinta pada olahraga keras ini sejak belia. Kegemarannya berkelahi di jalanan mengantarkannya ke rumah pelatih tinju Kid Darlim. Gara-gara prestasinya yang tidak menggembirakan, Setyadi banting setir dari atlet menjadi promotor tinju.
Pilihan ini tidak salah. Melalui Sawunggaling Boxing Camp di Surabaya, Setyadi turut melahirkan Wongso Suseno (juara OPBF tahun 1970-an), Wongso Indradjit (WBC Junior), Ajib Albarado (PABA dan WBF), dan Dobrak Arter (WBF Intercontinental), yang sempat malang melintang di beberapa ring tinju kelas internasional. Sayang, angan-angannya untuk mengorbitkan petinju Indonesia ke tingkat dunia pada 1985 kandas setelah anak asuhannya, Yani Hagler Dokolamo, roboh di tangan Dody Penalosa dari Filipina.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini