Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Teknologi & Inovasi

Ada Nama, Ada Susu

9 Februari 2009 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

SAATNYA petani menaikkan pro­duksi susu, mumpung har­­ganya naik dari Rp 3.100 per liter menjadi Rp 3.700 pada pekan ini. Caranya pun gampang. ”Beri sapi itu nama,” ujar Catherine Dou­glas, ahli perilaku sapi dari Newcastle University, Inggris.

Douglas menyatakan, jika Anda memanggil seekor sapi dengan nama­nya, lebih sering bicara kepadanya, lebih memperhatikannya, ini akan membangun relasi khusus antara Anda dan sapi itu. ”Sapi jadi lebih rileks,” ujarnya. Jika hewan ini rileks, hormon kortisol tertekan dan kadar hormon oksitosin—yang membikin susu lebih banyak—meningkat.

Bersama Peter Rowlinson, Dou­glas meneliti sapi di lebih dari 500 peternakan di Inggris. Mereka menemukan, hampir setengah dari peternakan itu selalu memberikan nama kepada sapi-sapi mereka. Hasilnya, sapi-sapi itu menghasilkan susu satu liter ­lebih banyak per hari. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Anthrozoos, terbit Januari lalu.

Kapan sapi itu diberi nama? Douglas mengatakan, karena sapi perah mulai menghasilkan susu setelah berumur dua tahun, peternak sering kali mene­lantarkan mereka pada dua tahun pertama. ”Itu keliru. Soalnya, sapi yang diperlakukan dengan baik pada usia 6-15 bulan biasanya menghasilkan lebih banyak susu nantinya.”

Oksitosin

BERASAL dari kata Yunani oxys dan tokos, yang berarti kelahiran cepat. Ini sejenis hormon pada mamalia yang berperan besar dalam proses reproduksi, terutama pada betina. Selain aktif memfasilitasi kelahiran dan kegiatan menyusui, hormon ini diduga berperan dalam berbagai perilaku sosial. Misalnya, dalam jurnal Nature, Januari lalu, Profesor Larry Young, ahli neurologi dari Emory University di Atlanta, Georgia, mengumumkan bahwa apa yang kini dikenal sebagai cinta bisa jadi cuma ikatan yang dipengaruhi antara lain oleh kerja oksitosin di otak. ”Hormon ini mendorong munculnya kerlingan dan meningkatkan kepekaan kita untuk menangkap emosi orang lain,” kata Profesor Young.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
>
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus