Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ringkasan Berita
Glow, wisata malam dengan pertunjukan lampu warna-warni di Kebun Raya Bogor, tidak memiliki basis kajian ilmiah.
Wisata malam itu malah berbahaya bagi pohon dan tumbuhan.
Apa dampaknya bagi satwa liar Kebun Raya Bogor?
GAPURA bambu di jalan masuk Taman Meksiko di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, membuat penasaran Melani Abdulkadir-Sunito. Pada Agustus lalu, pengajar di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor atau IPB University ini berkunjung ke sana setelah kebun botani 204 tahun itu lima bulan tutup akibat Covid-19. Taman kaktus itu masih tutup karena direnovasi, begitu pula Taman Akuatik di bawahnya. “Pagar penutupnya bertulisan ‘semua akan indah pada waktunya’. Makin penasaran,” kata Melani, Kamis, 28 Oktober lalu.
Rasa penasaran Melani terjawab dalam kunjungan berikutnya, sepekan kemudian. “Pengelola Kebun Raya Bogor (PT Mitra Natura Raya) telah memasang papan info mengenai Glow di sana-sini,” ujar pendiri dan peneliti Samdhana Institute, lembaga non-pemerintah bidang pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat. “Waktu itu anak saya mengatakan, ‘Ma, rasanya ini bukan rumahku lagi’,” tutur Melani mengenai respons anaknya atas perubahan di Kebun Raya Bogor.
Melani mendapati di Taman Akuatik bertebaran lampu bola yang mengapung di kolam. Lampu-lampu lilin juga ditancapkan di dekat tanaman air. Ada kafe berbentuk kubus. Jalan tanah dan rerumputan berganti dengan pelataran semen. Taman Meksiko tak kalah meriah. Ada kafe yang tampak seperti rumah pueblo. Tiang-tiang berwarna hijau yang memiliki lampu sorot dan penembak laser ditempatkan di beberapa titik koleksi.
Melani menuangkan kegundahan itu dalam tulisan di laman Facebook miliknya pada 30 Agustus lalu. “Glow, ‘wisata malam bernuansa digital, inovasi baru, sensasi jelajah ditemani instalasi lampu gemerlap’ adalah keserakahan. Nilai konservasi Kebun Raya Bogor melorot, hak hidup tetumbuhan dan makhluk lain disingkirkan atas nama hiburan milenial dan pendapatan,” tulis Melani. Sebanyak 180 akun berkomentar. Sebagian memintanya membuatkan petisi online.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo