Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Bandung - Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Andry Widyowijatnoko membuat purwarupa tenda darurat dengan model baru. Berbentuk terowongan, tenda itu bisa dipasang memanjang. Struktur tendanya memakai rangka pola segitiga dan berlian.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Menurut Andry, gagasan pembuatannya untuk memberikan alternatif dari sistem tenda darurat yang sudah ada dan mudah dipasang dengan struktur yang kuat. Dia bersama tim mahasiswanya membuat dua jenis model tenda. “Dibuat sejak Desember 2020 sampai Agustus 2021,” katanya, Jumat 4 Februari 2022.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Model pertama berjenis truss tunnel yang sistem strukturnya berbentuk segitiga. Andry menggunakan pipa baja untuk rangka tenda itu. Ukuran lebarnya 6 meter, panjang 8,4 meter dan tingginya 4,6 meter. “Tenda ini relatif lebih berat karena ukurannya lebih besar,” kata pengajar di Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB itu.
Tenda darurat model kedua yang dinamakan lattice tunnel. (Dok.Tim ITB)
Adapun tenda darurat model kedua dinamakan lattice tunnel, yang merupakan pengembangan dari model tenda pertama. “Strukturnya satu lapis dan saling mengait berbentuk bidang-bidang diamond seperti itu,” ujar Andry yang tergabung dalam Kelompok Keahlian Teknologi Bangunan ITB itu.
Tenda lattice tunnel menggunakan rangka dari pipa galvanis. Ukuran tendanya selebar 7 meter, panjang 9 meter, dan tingginya 3,8 meter. “Tenda kedua belajar dari yang pertama, elemennya dibuat lebih sedikit,” kata dia.
Perlu 5-6 orang untuk mendirikan kedua tenda berukuran besar itu. Waktu pemasangannya membutuhkan sekitar 2-3 jam. Setelah berdiri, tenda darurat itu bisa digunakan untuk beragam fungsi, seperti hunian pengungsi, dapur umum, rumah sakit darurat, maupun sekolah. “Tendanya tidak perlu dipancangkan, kalau kondisi angin sangat kencang tendanya perlu diikat,” ujar Andry.
Pembuatan kedua model tenda itu masing-masing dibiayai oleh Rumah Amal Salman ITB dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB. Dana produksi per tenda berkisar Rp 20-30 juta. Ketika sempat dipasang di area Masjid Salman ITB, Andry mendapat masukan dari beberapa orang.
Sarannya seperti perbaikan pada jahitan dan pola pemasangan kain tenda serta bahannya. “Menurut saya cukup bagus untuk perbaikan ke depan,” ujarnya.
Baca:
Nyaris Terendam Air, Tim Teknik Geologi ITB Selamatkan Fosil dari Waduk Saguling
Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.