Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta- Ilmuwan mengidentifikasi fosil cranium berumur 3,8 juta tahun yang mewakili interval waktu antara 4,1 dan 3,6 juta tahun yang lalu, sebagai Australopithecus anamensis (disebut juga MRD berdasarkan nomor koleksinya MRD-VP-1/1), spesies Australopithecus paling awal dan diterima secara luas sebagai nenek moyang spesies Lucy, Australopithecus afarensis.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Peneliti menggunakan fitur morfologis tengkorak untuk mengidentifikasi spesies mana yang diwakili fosil tersebut.
"Fitur dari rahang atas dan gigi taring sangat penting dalam menemukan cranium. Tengkorak itu bersama dengan fosil lain yang dikenal dari Afar, menunjukkan bahwa Australopithecus anamensis dan Australopithecus afarensis hidup berdampingan selama sekitar 100 ribu tahun," ujar Stephanie Melillo dari Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi, dikutip Phys, Kamis, 29 Agustus 2019.
Temporal yang tumpang tindih ini menantang gagasan yang diterima secara luas tentang transisi linear antara kedua leluhur manusia purba ini. Haile-Selassie dari Museum Sejarah Alam Cleveland berkata: "Ini adalah pengubah permainan dalam pemahaman kita tentang evolusi manusia selama Pliosen," katanya.
Melillo dan Selassie menemukan cranium Australopithecus anamensis pertama di situs paleontologis Woranso-Mille, di Wilayah Afar di Ethiopia pada 2016. Bekerja selama 15 tahun terakhir di lokasi, setelah penemuan mereka, ahli melakukan analisis ekstensif MRD, sementara ahli geologi proyek bekerja untuk menentukan usia dan konteks spesimen.
Hasil temuan tim dipublikasikan secara online dalam dua makalah di jurnal ilmiah internasional Nature. Proyek Woranso-Mille telah melakukan penelitian lapangan di wilayah tengah Afar di Ethiopia sejak 2004. Proyek itu telah mengumpulkan lebih dari 12.600 spesimen fosil yang mewakili sekitar 85 spesies mamalia.
Pengumpulan fosil mencakup sekitar 230 spesimen hominin fosil yang berasal dari lebih dari 3,8-3,0 juta tahun yang lalu. Potongan pertama rahang atas, ditemukan oleh Ali Bereino (seorang pekerja Afar lokal) pada 10 Februari 2016 di sebuah tempat yang dikenal sebagai Miro Dora, distrik Mille dari Daerah Regional Afar.
Spesimen itu diekspos di permukaan dan penyelidikan lebih lanjut dari daerah tersebut menghasilkan pemulihan sisa tempurung kepala. "Saya tidak bisa mempercayai mata saya ketika aku melihat sisa tempurung kepala. Itu adalah momen dan seperti mimpi menjadi kenyataan," tutur Selassie.
Australopithecus anamensis adalah anggota genus Australopithecus tertua yang diketahui. Karena keadaan tengkorak hampir lengkap jarang terjadi, para peneliti mengidentifikasi fitur wajah yang belum pernah terlihat dalam spesies. "Fosil memiliki campuran fitur wajah dan tengkorak primitif, turunan yang tidak saya harapkan untuk dilihat pada satu individu," kata Selassie.
Beberapa karakteristik memiliki persamaan dengan spesies yang lebih baru. Sementara yang lain memiliki lebih banyak kesamaan dengan yang ada pada kelompok leluhur manusia purba yang bahkan lebih tua dan lebih primitif seperti Ardipithecus dan Sahelanthropus.
"Sampai sekarang, kami memiliki celah besar antara leluhur manusia paling awal yang diketahui, yang berusia sekitar 6 juta tahun, dan spesies seperti Lucy, usia dua hingga tiga juta tahun," ujar Melillo. "Salah satu aspek paling menarik dari penemuan ini adalah bagaimana ia menjembatani ruang morfologis antara kedua kelompok ini."
PHYS | NATURE
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini