Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sains

Studi Ini Buktikan Cuaca Panas Ekstrem Picu Penuaan

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances menemukan bahwa cuaca panas ekstrem dapat mempercepat proses penuaan biologis pada lansia.

28 Februari 2025 | 18.49 WIB

Cuaca panas/Canva
Perbesar
Cuaca panas/Canva

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances menemukan bahwa cuaca panas ekstrem dapat mempercepat penuaan individu lanjut usia atau lansia. Penelitian yang dilakukan oleh University of Southern California ini menganalisis lebih dari 3.600 orang berusia 56 tahun ke atas di Amerika Serikat. Hasilnya, usia biologis mereka yang tinggal di daerah dengan suhu tinggi, sering melebihi 32 derajat Celcius, akan cepat berlalu.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Dikutip dari Euronews, penuaan biologis berbeda dengan usia kronologis karena perbedaan ukuran kondisi tubuh di tingkat sel dan molekuler. Usia biologis yang lebih tinggi dibanding usia kronologis dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit dan kematian dini.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Penelitian ini menggunakan sampel darah yang dikumpulkan dari 2010-2016 dan mengukur usia biologis menggunakan epigenetic clocks, alat yang melacak perubahan DNA seiring waktu. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang tinggal di daerah lebih panas mengalami percepatan penuaan biologis, bahkan setelah mempertimbangkan faktor gaya hidup seperti olahraga, merokok, dan konsumsi alkohol.

Selain suhu tinggi, kelembapan turut meningkatkan risiko kesehatan. “Masalah utamanya adalah kombinasi panas dan kelembapan, terutama bagi lansia, karena mereka tidak berkeringat dengan cara yang sama seperti orang yang lebih muda,” kata Jennifer Ailshire, profesor gerontologi di USC dan salah satu penulis utama studi ini, dikutip pada Jumat, 28 Februari 2025.

Menurut Jennifer, kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri melalui penguapan keringat mulai berkurang seiring bertambahnya usia. Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2024 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat, dengan suhu sekitar 1,6 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri. Gelombang panas juga semakin sering terjadi dan semakin parah.

Penelitian sebelumnya mengaitkan panas ekstrem dengan berbagai masalah kesehatan, seperti stres kardiovaskular, gangguan ginjal, dan penurunan kognitif. “Jika suhu terus meningkat dan populasi terus menua, terutama bagi kelompok yang rentan, maka kita perlu lebih cerdas dalam strategi mitigasi,” kata Jennifer.

Para peneliti menekankan pentingnya langkah-langkah mitigasi untuk melindungi populasi rentan, terutama lansia, dari dampak panas ekstrem. Melalui penelitian yang terbit melalui Science Advances, mereka merekomendasikan peningkatan ruang hijau, penanaman lebih banyak pohon, serta perancangan infrastruktur yang lebih kebal panas sebagai langkah untuk mengurangi dampak kenaikan suhu di perkotaan.

 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus