Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Museum Layang-layang Indonesia menggelar peluncuran buku yang tak biasa. Tajuknya “Biografi Endang Ernawati Drajat: Hidup Tidak Sekadar Melayang”, sebuah kisah pendiri museum tersebut yang juga tokoh layangan Indonesia, pada Kamis, 27 Februari 2025.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Agendanya disertai diskusi dan digelar di Museum Layang-layang Indonesia, Jalan H. Kamang no. 38, Cilandak, Jakarta Selatan. Selain buku tentang Endang Ernawati Drajat, juga diluncurkan buku lain, yakni “Katalog Koleksi Museum Layang-layang Indonesia”.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Bekerja sama dengan PAS Rekadaya dan didukung Langgam Komunika, acara ini turut menampilkan Djati Nurani dan Ayu Khairie membawakan pentas musik balada serta Angklung Kerta Ceria Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI)—organsisasi pensiunan PNS.
Secara garis besar, Biografi Endang Ernawati Drajat: Hidup Tidak Sekadar Melayang mengungkapkan tentang bagaimana keterikatan sang tokoh dengan layang-layang hingga akhirnya mewujudkan sebuah museum.
"Buku ini bukan hanya membagi cerita dan kenangan.Tapi juga mengajak generasi muda mencintai museum, khususnya Museum Layang-Layang Indonesia." kata Endang Ernawati, 74 tahun.
Buku ini diterbitkan dengan dukungan Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan RI, LPDP Kementerian Keuangan, Museum Layang-Layang Indonesia, Yayasan Layang-Layang Indonesia dan PAS Reka Daya.
"Kisah jatuh bangun Endang Ernawati, susah senang, segala lika liku memperoleh capaian ada dalam buku ini. Itu sebabnya judul Hidup Tak Sekadar Melayang, menginpretasikan kehidupannya yang penuh dinamika hingga mampu mendirikan Museum Layang-Layang Indonesia yang bertahan hingga 22 tahun ini," kata S. Dian Andryanto, penyunting buku tersebut.
Semula Endang berkarier di dunia kecantikan, yang telah ditekuninya sejak remaja.Namun sejak 1980-an, ia mulai beralih kegiatan ke dunia layang-layang, permainan yang disukainya sejak kanak-kanak. Permainan layang-layang, merujuk kepada gambar cadas di gua prasejarah Sugi Patani di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, telah ada di Nusantara setidaknya sejak 4000 tahun lalu.
Kini permainan ini telah berkembang menjadi olahraga rekreasi, yang di Indonesia tergabung dalam Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI), dengan TAFISA (The Association for International Sports for All) sebagai payung organisasi internasionalnya.
Edang tak hanya sekadar bermain layang-layang. Tapi juga terlibat dalam banyak festival layang-layang di Asia, Afrika, dan Eropa. Keterlibatannya membuat ia kemudian mulai mengumpulkan berbagai jenis layang-layang, yang asli Indonesia, maupun dari berbagai negara di dunia.
Dari layang-layang tradisional terbuat dari rangkaian daun umbi hutan dengan benang dari serat nanas, sampai layang-layang modern yang terbuat dari polyester dengan rangka fiber, dari yang berbentuk datar segiempat, sampai yang berupa naga ataupun miniatur rumah dan pendopo.
Puncaknya, pada 21 Maret 2003, ia mendirikan Museum Layang-layang Indonesia, di kawasan Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Musuem ini tidak sekadar menampilkan koleksi dan memutar film tentang layang-layang, tetapi juga selalu diramaikan dengan wokshop dan berbagai kegiatan serta pentas seni-budaya.
Menurut Endang, mendirikan dan mengelola museum, sejatinya tak sesederhana mengumpulkan dan memajang barang-barang unik, aneh, estetik, ataupun bersejarah. Ketika sekumpulan benda (things) telah menjadi koleksi museum (musealia), maka sederatan prosedur baku perlu dipenuhi, untuk menjaga statusnya sebagai koleksi museum.
“Bukan untuk menyulitkan kerja pengelolaan museum, tetapi rangkaian proses khusus dalam pengelolaan koleksi itu, diperlukan untuk memenuhi tujuan pelestarian yang diemban oleh museum,” katanya, seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Tempo, Kamis.
Benda yang ada di museum, kata dia, tidak sekadar dipajang untuk dinikmati saat ini, tetapi koleksi itu harus dirawat untuk diwariskan ke generasi mendatang, ratusan tahun dari sekarang. Sebagai lembaga lintas waktu, museum menjadi jembatan budaya antara masa lalu – masa kini – dan masa depan.
“Masa lalu ada pada koleksi museum; masa kini terdapat pada program publik di museum. Sedangkan masa depan terbentang di hadapan kita semua,” kata dia. Karya layang-layangnya pun telah tersebar ke banyak negara di berbagai benua.
Banyak pakar mengidentifikasi museum sebagai sumber inspirasi; tapi pendiri museum seperti Endang E. Drajat, tentu juga sumber inspirasi bagi banyak orang. Menurut tokoh layangan ini, agar hidup tak sekadar melayang terbawa angin, tetapi bisa pula bermanuver layaknya layang-layang sport kontemporer.
Selain menerbitkan buku biografi Endang Ernawati: Hidup Tidak Sekadar Melayang, Museum Layang-Layang Indonesia pun menerbitkan Katalog Koleksi Museum Layang-Layang Indonesia 2024.
Kegiatan peluncuran buku dan buku ini melalui diskusi dengan narasumber antara lain Gunawan Wahyu sebagai kurator, Rinaldy Puspoyo, Punto Kumoro selaku penanggap dan Punto A. Sidarto dan Budiman dari Museum Nasional Indonesia sebagai moderator. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program publik yang dilaksanakan Yayasan Layang-layang Indonesia sejak 2024, dalam kerangka program Dukungan Institusional dari Dana Indonesiana, yang dijalankan oleh Kementerian Kebudayaan RI dan LPDP Kementerian Keuangan RI.