Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

2 Kecelakaan Bus Transjakarta, Azas Tigor: Kok Bisa Kualitas Operator Rendah?

Berkaca dari dua kecelakaan bus Transjakarta pekan ini, Tigor menganggap operator bus tidak berkualitas.

30 Oktober 2021 | 19.30 WIB

Ketua Forum Warga Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan dan Koordinator Karyawan Kontrak PT Transportasi Jakarta Budi Marcello memberikan keterangan di kantor FAKTA, Cipinang Muara, Jakarta, 7 Juli 2017. TEMPO/Arkhe
Perbesar
Ketua Forum Warga Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan dan Koordinator Karyawan Kontrak PT Transportasi Jakarta Budi Marcello memberikan keterangan di kantor FAKTA, Cipinang Muara, Jakarta, 7 Juli 2017. TEMPO/Arkhe

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan, mempertanyakan sistem seleksi operator bus Transjakarta. Berkaca dari dua kecelakaan bus pekan ini, Tigor menganggap operator bus tidak berkualitas.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Kok bisa sih kualitas operatornya rendah dan tidak berkualitas," kata dia saat dihubungi, Sabtu, 30 Oktober 2021.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Bus Transjakarta milik operator Bianglala Metropolitan menabrak armada di depannya yang tengah berhenti di depan halte Indomobil, Jalan MT. Haryono, Jakarta Timur pada Senin pagi, 25 Oktober 2021. Kecelakaan ini menyebabkan dua orang meninggal dan puluhan orang luka-luka.

Empat hari kemudian sebuah bus transjakarta menabrak lima pembatas jalan atau Movable Concrete Barrier (MCB) di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Operator bus adalah Perusahaan Umum Pengangkutan Penumpang Djakarta atau Perum PPD. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.

Tigor menilai direksi PT Transjakarta harus bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut. Sebab, seleksi operator dilakukan oleh BUMD itu.

Dia juga mempertanyakan pengawasan PT Transjakarta terhadap mitra kerjanya. "Apa kerja direksi dan manajemen?" tanya dia.

Anggota Komisi B Bidang Perekonomian DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak, menilai dua kecelakaan bus Transjakarta yang terjadi belakangan ini menunjukkan ada yang tidak beres dengan manajemen PT Transportasi Jakarta (Transjakarta). Kecelakaan ini seakan-akan membuka kotak pandora bobroknya manajemen PT Transjakarta.

"Ini jelas ada yang tidak beres, seperti kotak pandora yang terbuka bahwa manajemen Transjakarta tidak baik," kata dia dalam pesan teksnya, Sabtu, 30 Oktober 2021.

Gilbert menyebut manajemen PT Transjakarta perlu mengoreksi sumber daya manusia (SDM) yang ada. BUMD itu telah menerima subsidi atau public service obligation (PSO) senilai Rp 3 triliun per tahunnya, sehingga harus mengutamakan unsur keamanan penumpang.

Sebelumnya, Direktur Operasional PT Transjakarta Prasetia Budi, mengatakan akan mengevaluasi peristiwa kecelakaan yang terjadi Senin, 25 Oktober 2021. Evaluasi, kata dia, akan dilakukan baik secara internal maupun terhadap mitra operator bus Bianglala Metropolitan (BMP). Menurut dia, dua bus yang kemarin terlibat kecelakaan merupakan milik BMP sebagai operator.

“Kami akan memperketat lagi kegiatan evaluasi dan pembinaan kepada operator. Hal ini sebagai salah satu langkah dan upaya yang kami lakukan, sesuai arahan Pak Gubernur untuk meminimalisir kejadian seperti ini tidak terulang kembali ke depannya,” kata Prasetia dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 26 Oktober 2021.

Lani Diana

Menjadi wartawan Tempo sejak 2017 dan meliput isu perkotaan hingga kriminalitas. Alumni Universitas Multimedia Nusantara (UMN) bidang jurnalistik. Mengikuti program Executive Leadership Program yang diselenggarakan Asian American Journalists Association (AAJA) Asia pada 2023.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus